Kisah singkatku saat aku ada di rumah kakak untuk mengikuti ibadah sepuluh malam sebelum pembaptisan..
Aku masih kisah ingat tiga tahun silam. Kisah yang hampir merenggut nyawaku. Bermula di saat aku berada di rumah kakak yang paling tua. Aku di sana bukan untuk tebar pesona atau untuk ikut meramaikan desanya yang dalam kategori perkampungan. Kiri dan kanan tak luput dari pohon karet juga pohon salak yang siap menari menyambut setiap ayunan kaki di desa ini. Tak jarang pula, di sini masih kental dengan adat orang yang terdahulu. Yang sering disebut penatua yang memegang ilmu hitam atau sejenisnya yang bergumul dalam keburukan.
Genap sudah aku tujuh hari di sini. Empat hari berdiam diri di rumah sebelum ikut terjun pada tujuan pertama. Yaitu, ikut serta dalam ibadah sepuluh malam untuk pembatisan di dalam air dan dalam Roh Kudus. Sisanya adalah, aku mulai ikut ibadah.
Malam pertama ibadah di rumah jemaat, aku masih canggung harus berdekatan dengan ibu yang sudah tua, berhadapan dengan seorang pendeta muda. Aku canggung bukan menatap mereka. Melainkan, mereka kedengaran pasih saat berbahasa Roh. Sontak, aku terkejut dengan yang aku dengar. Aku memlih diam dan mendengar dengan seksama. Malam kedua, aku berhasil ikut larut dalam ibadah penerimaan Roh Kudus. Begitu pun malam ketiga.
Sang surya menggelitik dari jendela kayu di kamar tempat aku merebahkan tubuh. Aku mengucek-ngucek mata sembari mengintip ke luar jendela. Kudapati di sana berkat Tuhan semakin baru. "Uhukk, uhukk, uhukk" aku terbatuk seraya itu adalah sambutan hangatku terhadap surya. Ternyata tidak!. Suara batuk yang aku perdengungkan tertangkap jelas oleh indra pendengar mertua kakak. Sekejap ia pun bertanya padaku perihal jam kepulanganku tadi malam dan aku ibadah di rumah yang mana. Aku menjelaskan kepada beliau. Saat kami selesai ibadah, kami biasanya dijamu oleh tuan rumah dengan makanan dan minuman ringan. Dan, kebetulan tadi malam kami ibadah di rumah Nenek P. Beliau pun curiga tentang yang terjadi padaku. Beliau menatapku aneh dan mulai menjelaskan arti batuk yang menerjangku. Panjang lebar beliau menjelaskan bahwa aku terserang racun yang beliau duga ditetes saat tengah berdoa sebelum makan. Beliau juga menegaskan bahwa di desa itu masih sering terjadi hal seperti itu kepada orang-orang baru di sana. Mendengar penuturan beliau, aku takut. Jantungku bergetar kencang, darahku mengalir deras. Aku menangis saat beliau mengatakan betapa malangnya nasibku di sini hingga aku mendapati musibah seperti itu.Dan, hal semacam itu biasanya mengakabitkan kematian. Penuturan beliau yang panjang lebar membuat aku teriris. Kucoba menepis semua dengan mengingat beberapa Firman Tuhan yang terekam di memori otakku.
Tiga hari aku didera batuk terkutuk itu, aku masih tidak percaya akan hal yang menimpa aku. Aku menyimpan perkara itu sendiri. Dan, beliau menyarankan aku untuk berobat ke dukun. Aku menolak dengan sangat. Karena, aku ingat Firman yang disampaikan Penggembala. Yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus adalah tabib yang ajaib. Aku coba merenungi perkataan itu. Aku memejamkan mata seraya mengirim kekuatan ke dalam hati juga jiwaku. Aku pun mulai berlutut, berserah diri kepada Penguasa Hidupku, Allah sendiri. Aku merendahkan diri, membawa semua bebanku pada kaki salibNya. Dengan pilu, aku meluapkan semua. Tiga puluh menit, bahkan lebih. Aku masuk hadirat Tuhan. Memuji, menyembah dan berdoa. Aku melakukan itu semua atas dasar hatiku yang meyakini bahwa Kuasa darahNya mampu mengalahkan segala tipu daya iblis.
Aku berhasil menerima Kuasa Roh, berbicara dalam bahasa asing, aku pun dimampukanNya. Hingga dua hari setelah aku bergelut dalam doa penyembuhan, aku mengalami muzizat Tuhan yang luarbiasa. Aku sembuh! Aku sembuh oleh kuasa Tuhanku. Tidak ada setitik penyakit pun tertinggal. Aku pulih! Dan, aku bersukacita .
Hadiah yang luarbiasa, aku dikarunia Roh kudus, aku dibaptis dalam api dan juga aku mengalami kuasa penyembuhan.
Terima kasih Allahku, karena Engkau telah mengaruniakan anakMu yang tunggal di sisiku sebagai Tuhan dan Juruselamatku.
Pujian dan hormat hanya bagi namaMu, sekarang dan selamanya..
Untuk mereka yang memang paham, mengerti tanpa diminta. Nikmatilah tulisan sederhana yang di dalamnya ada benci, cinta dan rindu.
Jumat, 18 Desember 2015
Kumpulan Puisi Bebas
"My Hero"
Terlahirku dalam dunia fana
Tanpa mengerti bahasa
Kau sayangi sepenuh hati
Menimang hingga terlelap
Waktu terus melaju dengan cepat
Tak berkurang dan tak tertandingi
Kasihmu masih setia memeluk
Membesarkan dalam pengorbanan
Rambut hitam kini berubah musim
Badan kekar terpandang layu
Namun cintamu tak kunjung runtuh
Menyadarkan aku engkau pahlawan
Ayah, Ibu
Terima kasih untuk cinta dan pengorbananmu
Tetaplah di sini; di sisiku bersamaku
Akan kubawa bulan dan bintang ke pangkuanmu
"Happy Birthday"
Telah terlewati setiap kisah hidup
Berjuta kenangan pahit dan manis menghiasi
Tak luput mantra doa terlepas dari mulut
Menghantar ayunan kaki dalam impian
Beribu halaman buku telah tercoret
Menulis kisah-kisah indah megah
Beribu kata telah terbentang
Mengucap syair-syair syahdu
Tak ada hari yang menandingi saat ini
Betapa tidak, hari ini adalah hari bersejarah
Begitu terkenang dan selalu dinanti
Ya, hari kelahiran
Selamat ulang tahun
Selamat telah mampu melewati getirnya hidup
Selamat atas kesempatan hidup yang baru
Selamat jua untuk semua yang diraih
Selamat ulang tahun
Selamat untuk semua cerita
Tetap lakukan segala kebaikan
Dan, lakukan semua untuk kemuliaan Tuhan
"Tak Perlu Khawatir"
Jalan hidup memang berliku
Terpatri paku di sana-sini
Meski kaki terasa kaku
Tetaplah melangkah tiada henti
Tatap langit yang permai
Gantungkan cita dan cinta
Walau bumi diguncang badai
Jangan takut untuk bersuara
Buka mata menatap dunia
Ambil kanvas lukis mimpi
Sekalipun bumi mengandung lara
Tuhan Yesus tetap mengasihi
*Sekian kumpulan puisinya, semoga bermanfaat
**Isi text boleh dicopy, asal nama dan sumbernya dicantumkan.
***Tetapi, sebagian atau keseluruhan text tidak boleh diubah keasliannya.
Terlahirku dalam dunia fana
Tanpa mengerti bahasa
Kau sayangi sepenuh hati
Menimang hingga terlelap
Waktu terus melaju dengan cepat
Tak berkurang dan tak tertandingi
Kasihmu masih setia memeluk
Membesarkan dalam pengorbanan
Rambut hitam kini berubah musim
Badan kekar terpandang layu
Namun cintamu tak kunjung runtuh
Menyadarkan aku engkau pahlawan
Ayah, Ibu
Terima kasih untuk cinta dan pengorbananmu
Tetaplah di sini; di sisiku bersamaku
Akan kubawa bulan dan bintang ke pangkuanmu
"Happy Birthday"
Telah terlewati setiap kisah hidup
Berjuta kenangan pahit dan manis menghiasi
Tak luput mantra doa terlepas dari mulut
Menghantar ayunan kaki dalam impian
Beribu halaman buku telah tercoret
Menulis kisah-kisah indah megah
Beribu kata telah terbentang
Mengucap syair-syair syahdu
Tak ada hari yang menandingi saat ini
Betapa tidak, hari ini adalah hari bersejarah
Begitu terkenang dan selalu dinanti
Ya, hari kelahiran
Selamat ulang tahun
Selamat telah mampu melewati getirnya hidup
Selamat atas kesempatan hidup yang baru
Selamat jua untuk semua yang diraih
Selamat ulang tahun
Selamat untuk semua cerita
Tetap lakukan segala kebaikan
Dan, lakukan semua untuk kemuliaan Tuhan
"Tak Perlu Khawatir"
Jalan hidup memang berliku
Terpatri paku di sana-sini
Meski kaki terasa kaku
Tetaplah melangkah tiada henti
Tatap langit yang permai
Gantungkan cita dan cinta
Walau bumi diguncang badai
Jangan takut untuk bersuara
Buka mata menatap dunia
Ambil kanvas lukis mimpi
Sekalipun bumi mengandung lara
Tuhan Yesus tetap mengasihi
*Sekian kumpulan puisinya, semoga bermanfaat
**Isi text boleh dicopy, asal nama dan sumbernya dicantumkan.
***Tetapi, sebagian atau keseluruhan text tidak boleh diubah keasliannya.
Cerpen "Bad Boy"
Setitik Pertemuan
Tahukah kamu sejak pertemuan itu bumiku terguncang? Lalu, kau pergi
dan berhasil membawa semua yang aku miliki. Apa sebenarnya yang kamu mau?
Pertanyaan yang
selalu terbendung dalam benak Ayu, saat khayalnya bermain dengan bayang itu,
Ayu selalu basah dengan titik hangat dikedua pelupuk matanya. Setitik pertemuan
mampu mengubur Ayu dalam sepenggal kenangan yang membenamkan rindu. Pria itu
bahkan tidak pernah merasa bersalah telah memenjarakan Ayu dalam dunianya yang
penuh dengan kerinduan.
“Ayu.. Kamu tahu,
mata indahmu mampu menyejukkan hatiku” mantra cinta yang terucap dari bibir
tipis pria itu menyentuh hati Ayu.
“Jangan terlalu memujiku, Her. Kita sudah saling mengenal sejak
lama, bahkan ketika kita sekolah dasar dulu. Kenapa kamu baru mengatakannya
sekarang?”
“Aku baru menyadarinya, kini mataku terbuka oleh sinar terangmu.
Keindahanmu itu membuatku menyanjungmu,”
“Oh, Herman.
Terima kasih atas semua yang kamu ucapkan, sungguh membuat aku tersanjung.
Namun, aku tidak mengerti apa maksud dari semua perkataanmu” Terang saja Ayu
tidak memahami maksud dari Herman, karena ia seorang gadis polos berwajah manis
yang belum mengenal apa itu cinta terhadap lawan jenis.
“Ayu, aku ingin
kamu menjadi pendamping hidupku. Maksudku, maukah kamu menjadi kekasihku?” pinta
Herman sembari menggenggam tangan halus Ayu seraya meyakinkan hati gadis itu.
Tanpa gerak
aneh dan suara, Ayu perlahan mengangguk. Anggukan itu mengisyaratkan bahwa Ayu
bersedia merajut benang asmara dengan Herman. Herman yang seorang teman
kecilnya, yang tampak begitu gagah dimata Ayu ditambah dengan dada bidangnya
menyempurnakan tubuh lelaki itu.
Kini Ayu resmi
menyandang gelar “Berpacaran”. Berpacaran dengan lelaki yang telah ia kenali,
yang telah lama diam dalam kedalaman hatinya. Kedekatan mereka selama ini yang
membuat Ayu yakin dengan pilihannya, memilih Herman sebagi pemilik tunggal
hatinya.
Hari-hari
mereka lalui dengan rasa bahagia yang tak tergambarkan dengan kata, keluarga
mereka pun mendukung jalinan cinta yang tengah terajut. Namun, tak banyak kisah
dan cerita yang mampu mereka tuliskan bersama. Karena, Herman akan segera
berangkat ke kota nan jauh dari pandangan Ayu. Herman akan kembali bertugas
sebagai abdi negara, sementara Ayu harus tinggal di pinggiran kota untuk menyelesaikan
pendidikan keguruannya.
Ayu dengan rasa
cintanya memberangkatkan Herman di sebuah stasiun, tempat terdapatnya beragam
bus yang memiliki kota tujuan yang berbeda-beda. Lambaian tangan Ayu menghantar
Herman duduk di sebuah sudut kursi bus yang di dalamnya terdapat layanan full
AC. Perlahan namun pasti, bus yang ditumpangi Herman semakin jauh dari sudut
mata Ayu. Membuat Ayu semakin basah dengan air mata yang sejak tadi mengalir
deras namun tak menyebabkan banjir dalam stasiun bus.
Sejak pertemuan
itu, Ayu telah memberikan hati, cinta juga rindunya hanya untuk Herman. Namun,
Herman tampaknya tidak terlalu serius dengan apa yang ia ucapkan tempo hari.
Herman berhasil membawa semua yang Ayu miliki, kini Ayu tinggal dalam kenangan
dan bayang-bayang Herman. Berharap Ayu akan dapat bertemu kembali dan bisa
melewati hari berdua dalam perbincangan hangat tentang cinta. Semoga Ayu kian
kuat untuk menghadapi semua bayang Herman.
Langganan:
Komentar (Atom)