Untuk segurat
wajah di Ujung Sumatera
Karya;
Meria M Napitupulu
Lama sudah tak bersua
Tak jua kudengar berita tentangmu
Apa kabarmu kasihku?
Adakah kau simpan rindu?
Seperti rinduku untukmu
Adakah jua kau sebut namaku dalam bait doamu?
Seperti aku bersimpuh di sepertiga malam
Atau....
Sudah lupahkah kau pada secuil janji yang pernah terlontar?
Pun pada butir-butir harap masa depan yang kau tabur?
Tak tahukah kau bahwa ia tumbuh
Berakar; merambat di sela-sela hati
Bertumbuh; mekar di dunia khayal
Kini ia berbunga di antara sudut jiwa kosong
Merekah; berbaris sejajar dengan setitik dusta
Ia bertahan diantara puing-puing mimpi yang kau suratkan
Namun, ia tak begitu kuat
Ia layu; bahkan hampir mati
Terhimpit oleh sepotong kisah kelam
Tertindas oleh tebalnya dinding penghalang
Tersayat oleh tajamnya permainan waktu
Saat itu,
Kala kau memilih pergi jauh
Meninggalkan sejuta rasa
Sepenggal cinta
Pun sebongkah janji
Dan, aku bagai JIWA yang TAK BERNYAWA
Tak jua kudengar berita tentangmu
Apa kabarmu kasihku?
Adakah kau simpan rindu?
Seperti rinduku untukmu
Adakah jua kau sebut namaku dalam bait doamu?
Seperti aku bersimpuh di sepertiga malam
Atau....
Sudah lupahkah kau pada secuil janji yang pernah terlontar?
Pun pada butir-butir harap masa depan yang kau tabur?
Tak tahukah kau bahwa ia tumbuh
Berakar; merambat di sela-sela hati
Bertumbuh; mekar di dunia khayal
Kini ia berbunga di antara sudut jiwa kosong
Merekah; berbaris sejajar dengan setitik dusta
Ia bertahan diantara puing-puing mimpi yang kau suratkan
Namun, ia tak begitu kuat
Ia layu; bahkan hampir mati
Terhimpit oleh sepotong kisah kelam
Tertindas oleh tebalnya dinding penghalang
Tersayat oleh tajamnya permainan waktu
Saat itu,
Kala kau memilih pergi jauh
Meninggalkan sejuta rasa
Sepenggal cinta
Pun sebongkah janji
Dan, aku bagai JIWA yang TAK BERNYAWA
Padangsidimpuan, 30 Oktober 2015
Secret Of Admirer
Karya; Meria M Napitupulu
Siapa aku?
Hanya seorang yang mampu memandangmu dari tembok penghalang
Mencium aroma tubuhmu lewat desiran angin di indra
Memeluk erat tubuhmu lewat khayal
Memujamu dalam diam yang jua terpisah oleh insan lain
Hanya seorang yang mampu memandangmu dari tembok penghalang
Mencium aroma tubuhmu lewat desiran angin di indra
Memeluk erat tubuhmu lewat khayal
Memujamu dalam diam yang jua terpisah oleh insan lain
Barangkali ini lebih baik
Menyimpan semua pada lemari cerita
Merawatnya seiring doa yang disembahkan kepada Pemersatu
Agar kelak segelintir rasa kagum berubah musim
Menjadi bongkahan-bongkahan cinta yang siap ditata rapi
Pada sela-sela hati pun akan dialiri ke nadi
Supaya ia abadi di jiwa
Hingga nanti, esok, selamanya
dan melahirkan buah penantian yang manis
Sebagai penyatu antara cintaku dan cintamu
Menyimpan semua pada lemari cerita
Merawatnya seiring doa yang disembahkan kepada Pemersatu
Agar kelak segelintir rasa kagum berubah musim
Menjadi bongkahan-bongkahan cinta yang siap ditata rapi
Pada sela-sela hati pun akan dialiri ke nadi
Supaya ia abadi di jiwa
Hingga nanti, esok, selamanya
dan melahirkan buah penantian yang manis
Sebagai penyatu antara cintaku dan cintamu
Padangsidimpuan, 03 Jan 2015