Part 1, diambil dari Novel "Jiwa yang Tak Bernyawa". Ditulis pada bulan Agustus 2015, oleh Meria M Napitupulu, dan sampai sekarang belum dipublish :D
JIWA YANG TAK BERNYAWA
Grace
Alfriani. Nama kita. Kita bersepakat membuat nama itu. Nama yang menjadi symbol
penyatuan dua jiwa, dua hati menjadi satu yang utuh. Grace berasal dari bahasa
tetangga, Inggris, yang mempunyai makna “Berkat”. Sementara Alfriani adalah
hasil penggabungan dari nama kita, Alfridin dan Masriani. Secara keseluruhan
bisa disimpulkan bahwa nama kita agar menjadi berkat. Kapan dan di mana pun itu
disebutkan.
***
Aku
masih menatapi hiasan dinding yang terbentang di sana. Ia selalu mampu memesona
hati dan jiwaku. Hiasan yang sudah empat tahun terpajang, tanpa ada seorang pun
yang berani menurunkan atau bahkan membuang. Aku menatapinya sangat lama. Grace
Alfriani. Itu yang terpajang di dinding berwarna ungu, di sebuah kamar yang
besarnya memuat tiga orang maksimal. Kamar tempat di mana menenangkan tandusnya
jiwa setelah kemarau yang menerpa. Ya. Itu kamarku. Tempat aku bercerita akan
kenakalan dunia, tempat aku berteduh kala hujan membanjiri bumi.
Terasa
hangat kedua pelupuk mataku ketika jemari lentikku menyentuh hiasan dinding
itu. Apa yang terjadi? Aku membatin dengan sangat keras. Aku menangis untuk
yang kesekian kalinya. Aku menangis dalam berbagai rasa yang kian hari kian pekat.
“Sayang,
kamu ingat hari ini?” tanya Al seakan membuat aku ingin tahu sesuatu yang
penting.
“Ini
hari kamis, Sayang” jawabku simpul sembari tersenyum manja menatapnya,
kekasihku.
“Bukan
itu yang aku maksud, Sayang.” ucapnya membujuk.
“Lalu,
apa?”
“Ini
hari jadian kita, Sayang.”
“Benarkah?”
balasku menggoda.
Al
mengangguk.
“Sekarang,
tutup matamu, aku ingin memberi kamu sesuatu.”
Aku
menutup mata, dibantu dengan kedua tangannya yang kekar. Hatiku seketika
berdegup kencang. Ia ingin keluar dan mendapati kebahagianku. Kupaksa ia
bertahan di dalam. Karena, aku tidak mau bersikap berlebihan menyambut
kebahagian dari pemilik hatiku, Alfridin.
“Sekarang,
bukalah!”
Mataku
melotot, lebih besar dari bola dunia atau yang disebut globe. Aku hampir tidak
berkedip menatapnya, menahan separuh nafas yang hampir terhembus keluar. Aku
merasa bunga-bunga bertaburan di hadapanku. Kupeluk tubuhnya yang tidak terlalu
gemuk. Dekapanku semakin erat ketika kedua tangannya yang tulus menyambut tubuh
mungilku. Kubenamkan wajahku ke dalam dadanya yang bidang, aku bahagia.
“Terima
kasih, Sayang. Ini adalah kado terindah yang pernah aku dapatkan. Ini kamu
sendiri yang buat, Sayang?”
“Tentu
saja. Itu khusus aku berikan untuk yang teristimewa dalam hidupku, kamu.”
Senja
yang indah di pinggir air terjun ini sungguh sangat memanjakan jiwa. Belaian
angin menyapu lembut rambut hitamku, ia menggelitik lewat jendela kaca di sudut
kafe itu. Cafe yang biasa dan selalu kami datangi kala berada dalam suka dan
duka. Sijorni Cafe.
Aku
bahagia dan Al juga. Kami masih menikmati siluet senja di pinggir air terjun.
Meja nomor tujuh adalah persinggahan termanis kami. Sekaligus ia menjadi saksi
bisu akan apa yang terjadi dalam hubungan kami. Dan, jika ada seseorang yang
menanyakan kemesraan kami, suruhlah dia bertanya pada meja nomor tujuh di Sijorni
Cafe. Dengan panjang lebar meja itu akan menjelaskan semuanya tentang aku dan
Al.
“Sayang,
kita pulang sekarang, ya?’ pintamu dengan sangat lembut.
“Sebentar
lagi, Sayang.”
“Tidak.
Kita harus pulang sekarang, Sayang. Nanti ibu dan ayah memarahi kita.”
Dengan
berat hati, aku menurut. Begitulah aku dengan dia. Aku selalu menurut tentang
yang dia pinta. Entah karena aku bodoh atau terlalu cinta. Entahlah. Namun, aku
sadari pintanya kali ini adalah demi kebaikanku. Juga dia.
Lagi-lagi
semilir angin di pantai itu menemani kami. Sekarang ia menghantar kami pulang
ke istanaku yang berjarak lima kilometer saja dari Aek Sijorni, Sumatera Utara,
tempat kami merajut kasih satu tahun silam.
Kami
bergegas meninggalkan Sijorni Cafe. Al membelokkan motornya menuju rumah calon
mertuanya, rumahku.
Lima
menit. Sepuluh menit. Hingga tiga puluh menit. Kami sampai di halaman rumah
yang halamannya dihiasi bunga mawar, melati dan kamboja. Kami mengayunkan kaki
dengan seirama, sangat teratur dan indah dipandang.
Ayah
dan ibu menyambut kami hangat. Al meminta izin kepada orangtuaku untuk menaruh
hadiah itu dalam kamar dan mereka mengizinkan.
“Sempurna....”
Hanya itu yang terbesit dari kedua bibir kami. Dan, kami menatapnya sangat
bahagia. Kupeluk dia lagi dan kami bersatu dalam sebuah pelukan kasih.
“Riani,”
suara lembut di balik pintu kamar membuyarkan kenangan manisku bersama dia yang
aku cinta.
Ternyata
beliau adalah wanita kehormatanku, wanita yang melahirkan aku dua puluh tahun silam.
Dia ibuku, Anna. Ibu yang mengajarkan aku arti hidup serta yang membuka mataku
untuk dapat menilai segala sesuatu yang ada di dalam dunia adalah baik adanya.
Dia bertubuh kurus, pipinya tirus, rambutnya bergelombang dan warna kulitnya
mewarisi daerah tropis tempat kami tinggal.


