Aku
masih mencintaimu diantara keraguan yang kau cipta, kegamangan yang kau bangun.
Aku masih dan akan tetap cinta. Bukan karena aku tidak memiliki lelaki lain
untuk mencintaiku, bukan pula karena hatiku sudah mati kepada lelaki lain
selain kau. Aku hanya berusaha menjadi seorang perempuan yang setia. Setia pada
perkataan, perbuatan dan segala yang menyangkut diriku.
Pernah
kukatakan secara langsung bahwa aku mencintaimu, pernah pula kuucapkan bahwa
aku menginginkanmu, bahkan pernah memintamu untuk menjadi yang terakhir bagiku.
Namun, tak sedikitpun yang kuutarakan kau indahkan. Alasannya masih tetap sama,
kau masih milik seorang perempuan. Kau kekasihnya!.
Beribu
musim kulewati sendiri tanpa kau atau lelaki lain. Dalam diam aku
memerhatikanmu, dalam temaram malam aku mencoba mencari bayangmu, dalam rinai
hujan aku mencoba mencuri suaramu, tak satu jua kutemui. Sampai detik ini. Bukan
aku tak mau secara langsung menghubungimu dan menemuimu, aku hanya takut niatku
berujung penyesalan. Aku jua takut saat aku dan kau bersua, ada seseorang yang
terpukul melihatnya, padahal ia tidak tahu yang sebenarnya. Sebetulnya aku
hanya ingin melihat wajah purnama, mata meneduhkan dan senyum indahmu. Itu
saja!
Kukatakan
untuk kesekian kali, bahwa aku akan dan selalu mencintaimu. Dan, aku hanya
ingin cintamu, hanya ingin rindumu. Tak perlu kuberitahu mengenai alasan
mengapa hanya kamu yang kuinginkan, karena sedari dulu sudah jelas kupaparkan
semua. Dan, itu yang membuatmu bangga kepadaku---tempo dulu.
Kalaulah
boleh jujur, saat ini aku sangat merindukanmu. Aku ingin cerita dahulu terulang
kembali. Pada suatu pagi di rumah berpanggung, ada secangkir kopi kuseduh, ada
asap mengepul dan kau hirup aromanya. Kau sesap sesekali hingga tegukan
terakhir, dan kau tersenyum puas karena berhasil menyeruput secangkir kopi
panas yang khusus kusediakan untukmu. Saat itu, aku selalu berharap ada pagi
yang lain. Agar setiap pagi aku dapat menghidangkan secangkir kopi panas
untukmu dan kau dengan semangat meneguknya hingga tersisa ampas dan cangkir
kosong.
Namun,
harapku hanya tinggal harap. Tinggal sudah harapku pada lantai, dinding kayu
tempat kita bersua setiap hari. Bahkan kolong rumah tua tempat kita berkisah
menangis lantaran kita tak pernah berujung sampai saat ini. Karena rumah tua
tersebut tahu betul apa dan bagaimana kisah kita dahulu.
Semenjak
itu, tinggallah separuh jiwaku pada rumah tua berpanggung, dan separuh hidupku
dipenjarakan di kota kelahiranmu. Semenjak itu pula aku tersadar, kita hanya
dipertemukan bukan dipersatukan.
Berbahagailah
cinta, berbahagialah lelaki yang merenggut separuh aku. Barangkali dengan
perempuanmu yang sekarang kau dapati bahagia melebihi ketika bersamaku. Biarkan
aku sendiri menanggung derita ini, menampung airmata yang selalu membanjiri
pipi ketika merindukanmu. Biar, biarkan aku terus begini sampai Tuhan sendiri
yang hentikan!.

Ini real life ya?
BalasHapus