Senin, 09 Januari 2017

Dipertemukan, bukan Dipersatukan.


            Aku masih mencintaimu diantara keraguan yang kau cipta, kegamangan yang kau bangun. Aku masih dan akan tetap cinta. Bukan karena aku tidak memiliki lelaki lain untuk mencintaiku, bukan pula karena hatiku sudah mati kepada lelaki lain selain kau. Aku hanya berusaha menjadi seorang perempuan yang setia. Setia pada perkataan, perbuatan dan segala yang menyangkut diriku.
            Pernah kukatakan secara langsung bahwa aku mencintaimu, pernah pula kuucapkan bahwa aku menginginkanmu, bahkan pernah memintamu untuk menjadi yang terakhir bagiku. Namun, tak sedikitpun yang kuutarakan kau indahkan. Alasannya masih tetap sama, kau masih milik seorang perempuan. Kau kekasihnya!.
            Beribu musim kulewati sendiri tanpa kau atau lelaki lain. Dalam diam aku memerhatikanmu, dalam temaram malam aku mencoba mencari bayangmu, dalam rinai hujan aku mencoba mencuri suaramu, tak satu jua kutemui. Sampai detik ini. Bukan aku tak mau secara langsung menghubungimu dan menemuimu, aku hanya takut niatku berujung penyesalan. Aku jua takut saat aku dan kau bersua, ada seseorang yang terpukul melihatnya, padahal ia tidak tahu yang sebenarnya. Sebetulnya aku hanya ingin melihat wajah purnama, mata meneduhkan dan senyum indahmu. Itu saja!
            Kukatakan untuk kesekian kali, bahwa aku akan dan selalu mencintaimu. Dan, aku hanya ingin cintamu, hanya ingin rindumu. Tak perlu kuberitahu mengenai alasan mengapa hanya kamu yang kuinginkan, karena sedari dulu sudah jelas kupaparkan semua. Dan, itu yang membuatmu bangga kepadaku---tempo dulu.
            Kalaulah boleh jujur, saat ini aku sangat merindukanmu. Aku ingin cerita dahulu terulang kembali. Pada suatu pagi di rumah berpanggung, ada secangkir kopi kuseduh, ada asap mengepul dan kau hirup aromanya. Kau sesap sesekali hingga tegukan terakhir, dan kau tersenyum puas karena berhasil menyeruput secangkir kopi panas yang khusus kusediakan untukmu. Saat itu, aku selalu berharap ada pagi yang lain. Agar setiap pagi aku dapat menghidangkan secangkir kopi panas untukmu dan kau dengan semangat meneguknya hingga tersisa ampas dan cangkir kosong.
            Namun, harapku hanya tinggal harap. Tinggal sudah harapku pada lantai, dinding kayu tempat kita bersua setiap hari. Bahkan kolong rumah tua tempat kita berkisah menangis lantaran kita tak pernah berujung sampai saat ini. Karena rumah tua tersebut tahu betul apa dan bagaimana kisah kita dahulu.
            Semenjak itu, tinggallah separuh jiwaku pada rumah tua berpanggung, dan separuh hidupku dipenjarakan di kota kelahiranmu. Semenjak itu pula aku tersadar, kita hanya dipertemukan bukan dipersatukan.
            Berbahagailah cinta, berbahagialah lelaki yang merenggut separuh aku. Barangkali dengan perempuanmu yang sekarang kau dapati bahagia melebihi ketika bersamaku. Biarkan aku sendiri menanggung derita ini, menampung airmata yang selalu membanjiri pipi ketika merindukanmu. Biar, biarkan aku terus begini sampai Tuhan sendiri yang hentikan!.


1 komentar: