Jumat, 18 Desember 2015

Kisah Nyata, Kesaksian dan muzizat Tuhan dalam hidup saya

Kisah singkatku saat aku ada di rumah kakak untuk mengikuti ibadah sepuluh malam sebelum pembaptisan..



Aku masih kisah ingat tiga tahun silam. Kisah yang hampir merenggut nyawaku. Bermula di saat aku berada di rumah kakak yang paling tua. Aku di sana bukan untuk tebar pesona atau untuk ikut meramaikan desanya yang dalam kategori perkampungan. Kiri dan kanan tak luput dari pohon karet juga pohon salak yang siap menari menyambut setiap ayunan kaki di desa ini. Tak jarang pula, di sini masih kental dengan adat orang yang terdahulu. Yang sering disebut penatua yang memegang ilmu hitam atau sejenisnya yang bergumul dalam keburukan.

Genap sudah aku tujuh hari di sini. Empat hari berdiam diri di rumah sebelum ikut terjun pada tujuan pertama. Yaitu, ikut serta dalam ibadah sepuluh malam untuk pembatisan di dalam air dan dalam Roh Kudus. Sisanya adalah, aku mulai ikut ibadah.

Malam pertama ibadah di rumah jemaat, aku masih canggung harus berdekatan dengan ibu yang sudah tua, berhadapan dengan seorang pendeta muda. Aku canggung bukan menatap mereka. Melainkan, mereka kedengaran pasih saat berbahasa Roh. Sontak, aku terkejut dengan yang aku dengar. Aku memlih diam dan mendengar dengan seksama. Malam kedua, aku berhasil ikut larut dalam ibadah penerimaan Roh Kudus. Begitu pun malam ketiga.

Sang surya menggelitik dari jendela kayu di kamar tempat aku merebahkan tubuh. Aku mengucek-ngucek mata sembari mengintip ke luar jendela. Kudapati di sana berkat Tuhan semakin baru. "Uhukk, uhukk, uhukk" aku terbatuk seraya itu adalah sambutan hangatku terhadap surya. Ternyata tidak!. Suara batuk yang aku perdengungkan tertangkap jelas oleh indra pendengar mertua kakak. Sekejap ia pun bertanya padaku perihal jam kepulanganku tadi malam dan aku ibadah di rumah yang mana. Aku menjelaskan kepada beliau. Saat kami selesai ibadah, kami biasanya dijamu oleh tuan rumah dengan makanan dan minuman ringan. Dan, kebetulan tadi malam kami ibadah di rumah Nenek P. Beliau pun curiga tentang yang terjadi padaku. Beliau menatapku aneh dan mulai menjelaskan arti batuk yang menerjangku. Panjang lebar beliau menjelaskan bahwa aku terserang racun yang beliau duga ditetes saat tengah berdoa sebelum makan. Beliau juga menegaskan bahwa di desa itu masih sering terjadi hal seperti itu kepada orang-orang baru di sana. Mendengar penuturan beliau, aku takut. Jantungku bergetar kencang, darahku mengalir deras. Aku menangis saat beliau mengatakan betapa malangnya nasibku di sini hingga aku mendapati musibah seperti itu.Dan, hal semacam itu biasanya mengakabitkan kematian. Penuturan beliau yang panjang lebar membuat aku teriris. Kucoba menepis semua dengan mengingat beberapa Firman Tuhan yang terekam di memori otakku.

Tiga hari aku didera batuk terkutuk itu, aku masih tidak percaya akan hal yang menimpa aku. Aku menyimpan perkara itu sendiri. Dan, beliau menyarankan aku untuk berobat ke dukun. Aku menolak dengan sangat. Karena, aku ingat Firman yang disampaikan Penggembala. Yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus adalah tabib yang ajaib. Aku coba merenungi perkataan itu. Aku memejamkan mata seraya mengirim kekuatan ke dalam hati juga jiwaku. Aku pun mulai berlutut, berserah diri kepada Penguasa Hidupku, Allah sendiri. Aku merendahkan diri, membawa semua bebanku pada kaki salibNya. Dengan pilu, aku meluapkan semua. Tiga puluh menit, bahkan lebih. Aku masuk hadirat Tuhan. Memuji, menyembah dan berdoa. Aku melakukan itu semua atas dasar hatiku yang meyakini bahwa Kuasa darahNya mampu mengalahkan segala tipu daya iblis.

Aku berhasil menerima Kuasa Roh, berbicara dalam bahasa asing, aku pun dimampukanNya. Hingga dua hari setelah aku bergelut dalam doa penyembuhan, aku mengalami muzizat Tuhan yang luarbiasa. Aku sembuh! Aku sembuh oleh kuasa Tuhanku. Tidak ada setitik penyakit pun tertinggal. Aku pulih! Dan, aku bersukacita .


Hadiah yang luarbiasa, aku dikarunia Roh kudus, aku dibaptis dalam api dan juga aku mengalami kuasa penyembuhan.

Terima kasih Allahku, karena Engkau telah mengaruniakan anakMu yang tunggal di sisiku sebagai Tuhan dan Juruselamatku.

Pujian dan hormat hanya bagi namaMu, sekarang dan selamanya..

Kumpulan Puisi Bebas

"My Hero"

Terlahirku dalam dunia fana
Tanpa mengerti bahasa
Kau sayangi sepenuh hati
Menimang hingga terlelap

Waktu terus melaju dengan cepat
Tak berkurang dan tak tertandingi
Kasihmu masih setia memeluk
Membesarkan dalam pengorbanan

Rambut hitam kini berubah musim
Badan kekar terpandang layu
Namun cintamu tak kunjung runtuh
Menyadarkan aku engkau pahlawan

Ayah, Ibu
Terima kasih untuk cinta dan pengorbananmu
Tetaplah di sini; di sisiku bersamaku
Akan kubawa bulan dan bintang ke pangkuanmu





"Happy Birthday"

Telah terlewati setiap kisah hidup
Berjuta kenangan pahit dan manis menghiasi
Tak luput mantra doa terlepas dari mulut
Menghantar ayunan kaki dalam impian

Beribu halaman buku telah tercoret
Menulis kisah-kisah indah megah
Beribu kata telah terbentang
Mengucap syair-syair syahdu

Tak ada hari yang menandingi saat ini
Betapa tidak, hari ini adalah hari bersejarah
Begitu terkenang dan selalu dinanti
Ya, hari kelahiran

Selamat ulang tahun
Selamat telah mampu melewati getirnya hidup
Selamat atas kesempatan hidup yang baru
Selamat jua untuk semua yang diraih

Selamat ulang tahun
Selamat untuk semua cerita
Tetap lakukan segala kebaikan
Dan, lakukan semua untuk kemuliaan Tuhan





"Tak Perlu Khawatir"


Jalan hidup memang berliku
Terpatri paku di sana-sini
Meski kaki terasa kaku
Tetaplah melangkah tiada henti

Tatap langit yang permai
Gantungkan cita dan cinta
Walau bumi diguncang badai
Jangan takut untuk bersuara

Buka mata menatap dunia
Ambil kanvas lukis mimpi
Sekalipun bumi mengandung lara
Tuhan Yesus tetap mengasihi



*Sekian kumpulan puisinya, semoga bermanfaat smile
**Isi text boleh dicopy, asal nama dan sumbernya dicantumkan.
***Tetapi, sebagian atau keseluruhan text tidak boleh diubah keasliannya.

Cerpen "Bad Boy"

Setitik Pertemuan
Tahukah kamu sejak pertemuan itu bumiku terguncang? Lalu, kau pergi dan berhasil membawa semua yang aku miliki. Apa sebenarnya yang kamu mau?
            Pertanyaan yang selalu terbendung dalam benak Ayu, saat khayalnya bermain dengan bayang itu, Ayu selalu basah dengan titik hangat dikedua pelupuk matanya. Setitik pertemuan mampu mengubur Ayu dalam sepenggal kenangan yang membenamkan rindu. Pria itu bahkan tidak pernah merasa bersalah telah memenjarakan Ayu dalam dunianya yang penuh dengan kerinduan.
            “Ayu.. Kamu tahu, mata indahmu mampu menyejukkan hatiku” mantra cinta yang terucap dari bibir tipis pria itu menyentuh hati Ayu.
“Jangan terlalu memujiku, Her. Kita sudah saling mengenal sejak lama, bahkan ketika kita sekolah dasar dulu. Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang?”
“Aku baru menyadarinya, kini mataku terbuka oleh sinar terangmu. Keindahanmu itu membuatku menyanjungmu,”
“Oh, Herman. Terima kasih atas semua yang kamu ucapkan, sungguh membuat aku tersanjung. Namun, aku tidak mengerti apa maksud dari semua perkataanmu” Terang saja Ayu tidak memahami maksud dari Herman, karena ia seorang gadis polos berwajah manis yang belum mengenal apa itu cinta terhadap lawan jenis.
“Ayu, aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku. Maksudku, maukah kamu menjadi kekasihku?” pinta Herman sembari menggenggam tangan halus Ayu seraya meyakinkan hati gadis itu.
Tanpa gerak aneh dan suara, Ayu perlahan mengangguk. Anggukan itu mengisyaratkan bahwa Ayu bersedia merajut benang asmara dengan Herman. Herman yang seorang teman kecilnya, yang tampak begitu gagah dimata Ayu ditambah dengan dada bidangnya menyempurnakan tubuh lelaki itu.
Kini Ayu resmi menyandang gelar “Berpacaran”. Berpacaran dengan lelaki yang telah ia kenali, yang telah lama diam dalam kedalaman hatinya. Kedekatan mereka selama ini yang membuat Ayu yakin dengan pilihannya, memilih Herman sebagi pemilik tunggal hatinya.
Hari-hari mereka lalui dengan rasa bahagia yang tak tergambarkan dengan kata, keluarga mereka pun mendukung jalinan cinta yang tengah terajut. Namun, tak banyak kisah dan cerita yang mampu mereka tuliskan bersama. Karena, Herman akan segera berangkat ke kota nan jauh dari pandangan Ayu. Herman akan kembali bertugas sebagai abdi negara, sementara Ayu harus tinggal di pinggiran kota untuk menyelesaikan pendidikan keguruannya.
Ayu dengan rasa cintanya memberangkatkan Herman di sebuah stasiun, tempat terdapatnya beragam bus yang memiliki kota tujuan yang berbeda-beda. Lambaian tangan Ayu menghantar Herman duduk di sebuah sudut kursi bus yang di dalamnya terdapat layanan full AC. Perlahan namun pasti, bus yang ditumpangi Herman semakin jauh dari sudut mata Ayu. Membuat Ayu semakin basah dengan air mata yang sejak tadi mengalir deras namun tak menyebabkan banjir dalam stasiun bus.

Sejak pertemuan itu, Ayu telah memberikan hati, cinta juga rindunya hanya untuk Herman. Namun, Herman tampaknya tidak terlalu serius dengan apa yang ia ucapkan tempo hari. Herman berhasil membawa semua yang Ayu miliki, kini Ayu tinggal dalam kenangan dan bayang-bayang Herman. Berharap Ayu akan dapat bertemu kembali dan bisa melewati hari berdua dalam perbincangan hangat tentang cinta. Semoga Ayu kian kuat untuk menghadapi semua bayang Herman. 

Minggu, 13 September 2015

LOMBA CIPTA PUISI BERBAHASA DAERAH TINGKAT NASIONAL 2015

"LOMBA CIPTA PUISI BERBAHASA DAERAH
TINGKAT NASIONAL 2015".
Persembahan dari Penerbit Rumah Kita, Dhepressive & Tim Sajak-Sajak Anak Negeri (SSAN). DL 18 September 2015.
Hails, Sang kesatria sajak Indonesia.
Bahasa daerah merupakan salah satu symbol atau ciri khas dari sebuah wilayah tertentu.
Misalnya: Batak, Jawa, Sunda, Madura, Melayu, dan lain-lain.
Untuk itu kami mengajak sobat semua untuk berkarya dengan bahasa daerah masing-masing yang tujuannya untuk melestarikan salah satu warisan budaya kita dan mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga keutuhan, keberagaman bahasa yang menjadi salah satu kekayaan di Negeri yang kita cinta, Indonesia.
Syarat & Ketentuan:
1. Peserta merupakan Warga Negara Indonesia.
2. Lomba terbuka untuk umum dan tidak ada batasan usia.
3. Karya yang dikirimkan merupakan karya sendiri, bukan jiplakan, dan belum pernah dipublikasikan, serta tidak sedang diikutsertakan dalam acara yang lain.
4. Bergabung ke grup atau like halaman FB:
a. SAJAK-SAJAK ANAK NEGERI (Fanspage)
http://facebook.com/SSANOFFICIAL
b. SAJAK-SAJAK ANAK NEGERI (Grup)
http://facebook.com/groups/1644348439133930?refid=27
c. Penerbit Rumah Kita
https://www.facebook.com/PenerbitRumahKita
Untuk mempermudah peserta mengakses seputar info event dan update peserta.
5. Tema puisi: Bebas
6. Genre puisi: Bebas
7. Puisi ditulis harus berbahasa daerah, seperti bahasa sunda, batak, jawa, melayu, dan lain-lain, serta mencantumkan terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia.
8. Satu penulis hanya diperbolehkan mengirim 1 naskah terbaiknya.
9. Naskah ditulis dalam bentuk .doc atau .docx dengan ukuran kertas A4, margin normal, Times new roman 12, spasi 1,5, panjang puisi minimal 10 Baris dan maksimal 3 halaman (Sudah termasuk judul, nama penulis, titimangsa, terjemahan, foto asli, dan biodata narasi).
10. Tulis judul puisi dan nama pengarang sebelum isi, tulis terjemahan puisi dibawah isi puisi berbahasa daerah, serta bubuhkan titimangsa di akhir puisi, contoh: Banjarsari, 27 Juni 2015.
11. Naskah ditulis menggunakan bahasa daera yang baik dan benar.
12. Tidak mengandung unsur SARA, kekerasan, dan pornografi.
13. Sertakan foto asli (boleh gaya) dan biodata narasi maksimal 100 kata di lembar akhir naskah dalam bentuk narasi, dilengkapi dengan nama lengkap, nama FB, email, dan prestasi kepenulisan (jika ada).
14. Puisi disimpan dalam bentuk File dengan nama: SSAN-Nama bahasa daerah-Judul puisi-Nama Penulis-Nama facebook.
Contoh: SSAN-Sunda-Silih asah, silih asih, silih asuh-Chairil Anwar-C. Anwar
13. Naskah yang telah memenuhi syarat dan ketentuan dikirim dalam bentuk attachment (lampiran) ke alamat email: Napitmeria998@gmail.com dengan nama subjek: SSAN-Nama bahasa daerah-Judul puisi-Nama penulis-Nama facebook.
Contoh: SSAN-Sunda-Silih asah, silih asih, silih asuh-Chairil Anwar-C. Anwar
14. Naskah dapat dikirim mulai tanggal 13 September 2015 hingga 19 September 2015 pukul 17.00 WIB atau kuota memenuhi.
15. Copas dalam status, kemudian share dan tag info event ini minimal ke 20 teman kamu.
16. Jumlah kontributor menyesuaikan dan puisi yang lolos seleksi akan dibukukan dalam bentuk E-book / Pdf.
17. Update peserta dilakukan di grup Sajak-Sajak Anak Negeri, dalam jangka waktu maksimal 2 hari sekali.
Reward:
Juara 1 mendapatkan E-sertifikat juara, Uang tunai Rp. 200.000, Piala penghargaan, E-book, dan T-shirt.
Juara 2 mendapatkan E-sertifikat juara, Uang tunai Rp. 175.000, Piala penghargaan, E-book, dan T-shirt.
Juara 3 mendapatkan E-sertifikat juara, Uang tunai Rp. 125.000, Piala penghargaan, E-book, dan T-shirt.
Juara 4 mendapatkan E-sertifikat juara, dan Pulsa 10.000
Juara 5 mendapatkan E-sertifikat juara, dan Pulsa 5.000
Seluruh kontributor mendapatkan E-sertifikat dan potongan harga 10.000 untuk membeli E-booknya.
Tambahan:
1. Seluruh kontributor diharuskan untuk membeli e-booknya seharga Rp. 20 ribu, untuk menghargai karyanya.
2. Seluruh peserta yang belum lolos sebagai kontributor mendapatkan E-sertifikat jika membeli ebooknya seharga Rp. 30.000.
3. Seluruh peserta ataupun kontributor yang membeli ebooknya akan diikutsertakan untuk mengikuti event SSAN "Tribute to Chairil Anwar"
4. Yang kesulitan kirim puisi melalui email, silakan kirim melalui akun facebook Meria M Napitupulu.
5. Pemberian hadiah adalah hak tim SSAN, dan kebijakan pemberian hadiah tergantung banyaknya kuota peserta yang berpartisipasi.
Salam !
Tim SSAN.
PJ event : Meria M Napitupulu (http://facebook.com/Meria.napitupuluh)

Sabtu, 22 Agustus 2015

Surat Cinta



Padangsidimpuan, 22 Agustus 2015

Dalam kata, kuungkap salam
Dalam surat, kutitip rasa
Teruntuk dirimu kekasih jiwa
Yang jauh dari pelupuk mata

Apa kabarmu di ujung bumi sana, sayang?
Masihkan sosokku menjadi alasan rindumu?
Ataukah ada jiwa lain yang mengusirku dari hatimu?
Dan, aku berharap itu tidak akan pernah terjadi antara kita.

Kasih...
Dua belas bulan lamanya kita tak bersua
Dua belas bulan jua kita tak saling memeluk
Aku rindu hadirmu seperti dahulu kala
Aku rindu kecupanmu mendarat di keningku

Kasih...
Aku paham alasan perpisahan kita
Aku mengerti betul kenapa kamu memilih pergi ke kota asing
Itu semua hanya karena mimpi-mimpi yang telah kita bangun
Mimpi yang telah kita sirami dengan cinta yang murni

Kasih...
Aku masih ingat pada semua janji suci yang kita lontarkan
Janji yang hingga hari ini aku genggam; sangat erat
Setia memeluk bayangmu dalam kesepian; kerinduan
Adalah kunci utama mengikat hati dan perasaan

Kasih...
Aku akan selalu menunggu kedatanganmu; meski hening mencekam
Akan aku jaga seutuhnya apa yang telah kita tanam selama ini
Mimpi, cinta dan harap akan selalu aku pupuk
Menanti waktu pertemuan indah kita

Kasih...
Di senja ini aku menyingkap yang terselubung di dalam hati
Di senja ini kusampaikan pada angin tentang cintaku
Agar ia membawa genangan rinduku pada wadahnya
Yaitu kamu yang jauh di sana; namun dekat di nadiku

Aku mengasihimu dengan segenap rasaku,
salam sayang beserta rinduku hanya untukmu.

Jumat, 21 Agustus 2015

Cerita Cinta

Cinta adalah kekuatan
Jika benar ia adalah cinta; maka tetaplah menunggu
Meski badai datang mengguncang
Meski ombak menderu hebat
Ia akan tetap utuh di singgasananya

Tetapi, jika ia bukanlah cinta
Dengan mudah ia akan layu
Dengan sapuan lembut angin ia akan menghilang
Terhempas kian ke mari
Tersampar di antar hiruk pikuk dunia

Bertahanlah, jika yang tumbuh itu adalah benar cinta ..

Sebab,
Cinta akan menemukan wadahnya
Mengalir perlahan
Menyusup lewat nadi
Bermuara di kedalaman hati
Hati yang penuh dengan taburan bunga merekah
Hati yang di sana terendap aroma menggoda
Hati yang adalah istana tempatmu bersemayam

Pulau Bintan, 21 Agustus 2015


Satu Nama (Akrostik dan Nazar)

Getir di hati kian menerjang
Resah di dada saat terasa jauh
Aksara kian membungkam
Cerita jua tak terkisahkan
Engkau adalah alasan dari semua ini

Kubenci kepergianmu yang menyiksA
Seakan bumiku tersenggoL
Saat kau jua tak berkata maaF
Aku masih sangat gusaR
Menjerit di hamparan bumI
Berpijak di atas sengsarA
Meratap nasib di atas kesepianN
Menangis dalam kepiluan hatI



Satu nama, Grace Alfriani
Nama yang sampai detik ini masih tersulam indah di hati
Nama yang tercipta antara aku dan kau yang dulunya adalah kita :D

Selamat malam :)
Semoga bermanfaat :)
Boleh dicopy, sertakan linkya, ya? :)

Kamis, 20 Agustus 2015

Puisi Akrostik dan Nazar

Apa sih puisi Akrostik dan Nazar?
Puisi Akrostik adalah sala satu puisi bebas yang belum terlalu dikenal oleh khalayak umum. Puisi ini lazimnya digunakan untuk mengungkapkan perasaan, dan diangkat dari sebuah nama.

Ini dia contohnya, saya ambil dari nama saya, Meria Masriani

Mungkin aku hina di hadapan manusia
Engkau Tuhan sanggup membuatku berharga
 RencanaMu indah di dalam kehidupanku
 Indah & kasihMu tak pernah terlambat menolongku
 Aman & benarlah jalanMu Tuhan

 Meski cobaan datang silih berganti
 Aku tidak akan takut & gentar
 Sebab Engkau slalu ada, Tuhanku
Rajaku yang berkuasa atas semuannya
Ingin kuselalu bersama dengan Engkau
Akan kuberikan yang terbaik bagiMu
Nyanyian, penyembahan & syukur hanya bagiMu
Ini akan kulakukan seumur hidupku ‘tuk senangkan hatiMu

Lalu, apakah itu puisi Nazar?
Puisi nazar dan akrostik adalah sama-sama jenis puisi baru yang belum terlalu harum namanya di kalangan masyarakat. Bedanya adalah Akrostik terletak disetiap awal huruf atau bait, sedangkan nazar adalah terletak di kata terakhir.
Berikut contohnya,

Duka merajaM
Sejak kemarin sorE
Hati kupaksa tegaR
Di atas duka yang riang menarI
Agar senyum selalu terciptA

Hati terbungkus lembaM
Di atas pilunya deritA
Semakin kuat kutepiS
Semakin dia mekaR
Andai dapat kupahamI
Akan kucari jawabnyA
Namun gagal di tengah jalaN
Lalu kupaksa diri untuk berhentI


Baiklah, sampai di sini dulu cerita tentang puisi akrostik dan nazar, semoga bermanfaat smile
Jika ingin menyalin, sertakan linknya ya? smile
Salam...

Selasa, 23 Juni 2015



Aku Ingin Menjadi Seorang Penulis
Aku tidak tahu kapan aku memulainya. Aku juga tidak tahu pasti kapan aku menyukai dunia ini. Dunia yang begitu asing dan tidak berguna di mata keluargaku. Dunia yang kini hanya aku yang menggeluti. Tanpa dorongan besar dari keluarga, aku tetap mencoba terjun di dalamnya.
Bagi sebagian insan, menulis bukan hal yang baik.  Dan, menjadi seorang penulis dianggap sebagai orang yang tidak berpenghasilan. Aku menolak pendapat itu. Meski tidak banyak karya yang aku disurati tanganku, meski belum juga ada penghasilan yang aku dapat dari menulis, aku selalu membela. Karena, menulis adalah mengungkapkan segala isi hati juga pikiran. Saat mulut tak mampu berucap, saat mata tak mampu memberi isyarat, saat itulah tangan menari. Menggores kertas dengan tinta yang bernilai tinggi.
Hari demi hari aku lalui dengan menyibukkan diri dalam istanaku, kamar. Lagu This I Believe by Hillsong ditambah secangkir kopi hangat selalu setia menemani dan membakar bara semangatku untuk menulis.
"Meria, seharian di kamar terus. Apa kamu tidak bosan?" suara di balik dinding kamar beton itu kedengaran jelas. Suara yang tak asing ditelingaku, suara bapak. Suara bapak menghentikan tanganku yang sedang berkompetisi dalam secarik kertas. Ah, bapak membuyarkan khayalku sedang bertandang ke masa lalu. Aku yang masih diam terpaku berharap khyalku yang hilang kembali pulang . Namun, setiap kali aku undang, selalu saja terhalang oleh suara lantang bapak. "Meria!!"
Dengan jengkel aku menoleh kecil ke arah pintu.  "Iya, Pak" jawabku simpul.
"Ini sudah sore. Dari pagi sampai sore diam di kamar terus. Sana masak dulu!"
"Aku sudah masak, pak."
"Kapan?"
Ah, lelaki berkeriput ini membuatku jengkel. Malas hati untuk berdebat dengan bapak. Terang saja bapak tidak tahu. Karena sejak tadi bapak terjaga dalam tidurnya. Untuk memudarkan tatapan tajamnya, aku hanya mengangguk pelan. Perlahan aku keluar dari kamar dan bergegas menuju dapur. Apa yang aku lakukan di dapur ini? Bapak memang tidak bisa melihat aku terpaku pada layar laptop pemberian kakak iparku. Bapak memang tidak terlalu setuju aku menggeluti dunia ini. Semua tidak ada yang setuju. Ah, memikirkan ini membuat ideku tadi membeku.
Aku mendekarti rak piring, berpura-pura menyibukkan diri dengan memukul sendok ke rak piring, sehingga menimbulkan bunyi di dapur.
"Meria apa yang kamu lakukan?" timpal ibu.
'           'Oh, Ibu"
"Lho, jawabnya kenapa begitu?"
Aku pun berkisah kepada ibu tentang pendapat bapak, tentang alasan di dapur dan tentang semua. Ibu malah membalas dengan tersenyum kecut di hadapanku.
"Kenapa Ibu tersenyum kecut?"
"Kamu juga,  seharian menulis. Apa kamu tidak jenuh?"
"Hah, jenuh? Pertanyaan macam apa itu?" gumamku dalam hati. "Tidak sama sekali, Bu. Aku malah senang melakukannya."
"Sudahlah, ikuti saja apa kata Bapakmu." Apa, ibu berkata seperti itu? Aku tidak mengira orang yang paling aku harapkan dukungannya, ternyata juga sama dengan oarng lain. Membuang aku, tidak mengijinkan aku dunia, dunia literasi.
"Jangan menangis, sebaiknya kamu fokus sama kuliahmu? Menjadi penulis adalah bukan tujan yang baik."
"Bagaimana aku tidak menangis, Bu. Meria ingin menjadi seorang penulis,  Meria juga fokus pada kuliah. Tapi, ibu dan bapak tidak mendukung."
"Hapus air matamu, Nak. Turuti saja apa kata bapakmu."
Aku tidak membalas, aku memilih diam. Berharap perdebatan ini selesai, atau aku lebih memilih hilang ditelan rak piring dari pada beradu pendapat dengan orang yang aku hormati.
Ya tuhan, betapa malangnya aku. Tak seorang pun dari mereka merestui aku, tak seprang pun, bantu aku melewati semua tuhan. Aku akan tetap menulis meski tidak ada restu keluarga. Namu, meski tak kudapati restu itu, aku tetap menulis ..