Selasa, 23 Juni 2015



Aku Ingin Menjadi Seorang Penulis
Aku tidak tahu kapan aku memulainya. Aku juga tidak tahu pasti kapan aku menyukai dunia ini. Dunia yang begitu asing dan tidak berguna di mata keluargaku. Dunia yang kini hanya aku yang menggeluti. Tanpa dorongan besar dari keluarga, aku tetap mencoba terjun di dalamnya.
Bagi sebagian insan, menulis bukan hal yang baik.  Dan, menjadi seorang penulis dianggap sebagai orang yang tidak berpenghasilan. Aku menolak pendapat itu. Meski tidak banyak karya yang aku disurati tanganku, meski belum juga ada penghasilan yang aku dapat dari menulis, aku selalu membela. Karena, menulis adalah mengungkapkan segala isi hati juga pikiran. Saat mulut tak mampu berucap, saat mata tak mampu memberi isyarat, saat itulah tangan menari. Menggores kertas dengan tinta yang bernilai tinggi.
Hari demi hari aku lalui dengan menyibukkan diri dalam istanaku, kamar. Lagu This I Believe by Hillsong ditambah secangkir kopi hangat selalu setia menemani dan membakar bara semangatku untuk menulis.
"Meria, seharian di kamar terus. Apa kamu tidak bosan?" suara di balik dinding kamar beton itu kedengaran jelas. Suara yang tak asing ditelingaku, suara bapak. Suara bapak menghentikan tanganku yang sedang berkompetisi dalam secarik kertas. Ah, bapak membuyarkan khayalku sedang bertandang ke masa lalu. Aku yang masih diam terpaku berharap khyalku yang hilang kembali pulang . Namun, setiap kali aku undang, selalu saja terhalang oleh suara lantang bapak. "Meria!!"
Dengan jengkel aku menoleh kecil ke arah pintu.  "Iya, Pak" jawabku simpul.
"Ini sudah sore. Dari pagi sampai sore diam di kamar terus. Sana masak dulu!"
"Aku sudah masak, pak."
"Kapan?"
Ah, lelaki berkeriput ini membuatku jengkel. Malas hati untuk berdebat dengan bapak. Terang saja bapak tidak tahu. Karena sejak tadi bapak terjaga dalam tidurnya. Untuk memudarkan tatapan tajamnya, aku hanya mengangguk pelan. Perlahan aku keluar dari kamar dan bergegas menuju dapur. Apa yang aku lakukan di dapur ini? Bapak memang tidak bisa melihat aku terpaku pada layar laptop pemberian kakak iparku. Bapak memang tidak terlalu setuju aku menggeluti dunia ini. Semua tidak ada yang setuju. Ah, memikirkan ini membuat ideku tadi membeku.
Aku mendekarti rak piring, berpura-pura menyibukkan diri dengan memukul sendok ke rak piring, sehingga menimbulkan bunyi di dapur.
"Meria apa yang kamu lakukan?" timpal ibu.
'           'Oh, Ibu"
"Lho, jawabnya kenapa begitu?"
Aku pun berkisah kepada ibu tentang pendapat bapak, tentang alasan di dapur dan tentang semua. Ibu malah membalas dengan tersenyum kecut di hadapanku.
"Kenapa Ibu tersenyum kecut?"
"Kamu juga,  seharian menulis. Apa kamu tidak jenuh?"
"Hah, jenuh? Pertanyaan macam apa itu?" gumamku dalam hati. "Tidak sama sekali, Bu. Aku malah senang melakukannya."
"Sudahlah, ikuti saja apa kata Bapakmu." Apa, ibu berkata seperti itu? Aku tidak mengira orang yang paling aku harapkan dukungannya, ternyata juga sama dengan oarng lain. Membuang aku, tidak mengijinkan aku dunia, dunia literasi.
"Jangan menangis, sebaiknya kamu fokus sama kuliahmu? Menjadi penulis adalah bukan tujan yang baik."
"Bagaimana aku tidak menangis, Bu. Meria ingin menjadi seorang penulis,  Meria juga fokus pada kuliah. Tapi, ibu dan bapak tidak mendukung."
"Hapus air matamu, Nak. Turuti saja apa kata bapakmu."
Aku tidak membalas, aku memilih diam. Berharap perdebatan ini selesai, atau aku lebih memilih hilang ditelan rak piring dari pada beradu pendapat dengan orang yang aku hormati.
Ya tuhan, betapa malangnya aku. Tak seorang pun dari mereka merestui aku, tak seprang pun, bantu aku melewati semua tuhan. Aku akan tetap menulis meski tidak ada restu keluarga. Namu, meski tak kudapati restu itu, aku tetap menulis ..


Cerita Singkatku....

Aku bernama lengkap Meria Masriani Napitupulu. Lahir pada 07 Sepetember 1994, beralamat di Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Aku memiliki sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu, Kakak, Adik dan tidak mempunyai suadara lelaki. Kami hidup sederhana di sini, di kota yang dikenal dengan sebutan Kota Salak.
Aku menempuh pendidikan di salah satu Universitas Swasta di kotaku, tepatnya di Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan.  Aku mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan saat ini menduduki tingkat tiga atau yang sering disebut semester enam. Kebiasaan di kelasku tak asing bagi retinaku. Di sini aku temui berbagai rangkaian cerita yang berbeda setiap harinya. Dari teman-teman yang peduli pada tugas, yang berpura-pura peduli bahkan sampai pada teman yang sama sekali tidak peduli tugas. Berbeda dengan aku, meski belum tersmasuk mahasiswi yang pintar, namun aku selalu mengerjakan tugas dengan yang aku mampu. Di kelas ini banyak cerita yang dapat disuratkan. Datang pukul delapan tepat, istirahat pada pukul satu siang hingga pulang pukul tiga sore setelah semua kelas dinyatakan selesai. Di sini tempat semua bermula, di kelas English Departemen A.
Mengenai kisah di kampus yang aku cintai, tak luput pula kehadiran dosen sebagai bumbu pelengkap untuk meyempurnakan kisah hidup. Banyak dosen yang aku temui di kampus ini, semua berbeda karakter. Tidak ada yang sama. Hanya, mereka punya tujuan yang sama, yaitu untuk menyumbangkan ilmunya pada kami para mahasiswa. Dari beberapa dosen di kampusku, ada saja dosen yang tidak mengasyikkan bagiku. Dari cara beliau menyampaikan materi, sampai bagaimana ia harus menanggapi kami para mahasiswanya. Ada satu dosen yang sama sekali tidak ingin aku tiru perlakuannya, sebut saja beliau menjadi dosen yang menginspirasiku untuk lebih baik dari beliau. Beliau sering terlambat masuk kelas, bahkan hampir jarang sekali bertatap muka dengan kami. Di sini, aku tidak termasuk memojokkan beliau, hanya menyampaikan betapa aku sangat menghormati beliau, hingga pada tugas composotionku aku menarik kisahnya untuk aku jadikan pelajaran berharga. Ada  juga beberapa dosen yang sangat aku kagumi, bahkan yang mampu membuat api semangatku mendidih, tak lain itu dosen wanita yang masih muda dan berwajah mungil. Yang selalu marah ketika sapaannya tidak dijawab dengan bahasa inggris. Siapa lagi beliau kalau bukan? Ah, rasanya begitu janggal mengucapkan. Yang penting, beliau adalah dosen favoritku, berinisial R.S. Baiklah, anggap saja ini sebagai rangkaian kisah yang tak bermaksud membela atau pun memojokkan sebelah pihak.
Berbicara tentang ambisi, apa itu ambisi? Perlukah setiap insan berambisi? Jawab saja di hati masing-masing. Kembali kepadaku, aku tidak terlalu berambisi dalam hidup ini. Yang paling aku ingin saat ini adalah lulus tepat waktu, yaitu pada akhir tahun 2016 dari kampus yang telah membesarkan ilmuku. Juga adalah bekerja di salah satu instansi pemerintah baik negeri atau pun swasta. Dan, tak lupa pula adalah meneruskan apa yang telah aku bangun saat ini. Yaitu, memupuk ladang yang baru saja aku tanamani dengan secuil tulisan. Berharap akhir tahun ini aku mampu menerbitkannya dan menjadi makanan gurih bagi insan  penikmat dan pencinta sastra. Baiklah, aku rasa hanya itu yang dapat aku tuangkan dalam tarian tangan ini dan aku rasa ini  juga adalah sebuah ambisi. Sebut saja ambisi jika memang itu adalah ambisi. Salam …