Aku Ingin Menjadi Seorang Penulis
Aku tidak tahu kapan aku memulainya. Aku juga tidak tahu pasti
kapan aku menyukai dunia ini. Dunia yang begitu asing dan tidak berguna di mata
keluargaku. Dunia yang kini hanya aku yang menggeluti. Tanpa dorongan besar
dari keluarga, aku tetap mencoba terjun di dalamnya.
Bagi sebagian insan, menulis bukan hal yang baik. Dan, menjadi seorang penulis dianggap sebagai
orang yang tidak berpenghasilan. Aku menolak pendapat itu. Meski tidak banyak
karya yang aku disurati tanganku, meski belum juga ada penghasilan yang aku
dapat dari menulis, aku selalu membela. Karena, menulis adalah mengungkapkan
segala isi hati juga pikiran. Saat mulut tak mampu berucap, saat mata tak mampu
memberi isyarat, saat itulah tangan menari. Menggores kertas dengan tinta yang
bernilai tinggi.
Hari demi hari aku lalui dengan menyibukkan diri dalam istanaku,
kamar. Lagu This I Believe by Hillsong ditambah secangkir kopi hangat selalu
setia menemani dan membakar bara semangatku untuk menulis.
"Meria, seharian di kamar terus. Apa kamu tidak bosan?"
suara di balik dinding kamar beton itu kedengaran jelas. Suara yang tak asing
ditelingaku, suara bapak. Suara bapak menghentikan tanganku yang sedang
berkompetisi dalam secarik kertas. Ah, bapak membuyarkan khayalku sedang
bertandang ke masa lalu. Aku yang masih diam terpaku berharap khyalku yang
hilang kembali pulang . Namun, setiap kali aku undang, selalu saja terhalang
oleh suara lantang bapak. "Meria!!"
Dengan jengkel aku menoleh kecil ke arah pintu. "Iya, Pak" jawabku simpul.
"Ini sudah sore. Dari pagi sampai sore diam di kamar terus.
Sana masak dulu!"
"Aku sudah masak, pak."
"Kapan?"
Ah, lelaki berkeriput ini membuatku jengkel. Malas hati untuk
berdebat dengan bapak. Terang saja bapak tidak tahu. Karena sejak tadi bapak
terjaga dalam tidurnya. Untuk memudarkan tatapan tajamnya, aku hanya mengangguk
pelan. Perlahan aku keluar dari kamar dan bergegas menuju dapur. Apa yang aku
lakukan di dapur ini? Bapak memang tidak bisa melihat aku terpaku pada layar
laptop pemberian kakak iparku. Bapak memang tidak terlalu setuju aku menggeluti
dunia ini. Semua tidak ada yang setuju. Ah, memikirkan ini membuat ideku tadi
membeku.
Aku mendekarti rak piring, berpura-pura menyibukkan diri dengan
memukul sendok ke rak piring, sehingga menimbulkan bunyi di dapur.
"Meria apa yang kamu lakukan?" timpal ibu.
' 'Oh, Ibu"
"Lho, jawabnya kenapa begitu?"
Aku pun berkisah kepada ibu tentang pendapat bapak, tentang alasan
di dapur dan tentang semua. Ibu malah membalas dengan tersenyum kecut di
hadapanku.
"Kenapa Ibu tersenyum kecut?"
"Kamu juga, seharian
menulis. Apa kamu tidak jenuh?"
"Hah, jenuh? Pertanyaan macam apa itu?" gumamku dalam
hati. "Tidak sama sekali, Bu. Aku malah senang melakukannya."
"Sudahlah, ikuti saja apa kata Bapakmu." Apa, ibu berkata
seperti itu? Aku tidak mengira orang yang paling aku harapkan dukungannya,
ternyata juga sama dengan oarng lain. Membuang aku, tidak mengijinkan aku
dunia, dunia literasi.
"Jangan menangis, sebaiknya kamu fokus sama kuliahmu? Menjadi
penulis adalah bukan tujan yang baik."
"Bagaimana aku tidak menangis, Bu. Meria ingin menjadi seorang
penulis, Meria juga fokus pada kuliah. Tapi,
ibu dan bapak tidak mendukung."
"Hapus air matamu, Nak. Turuti saja apa kata bapakmu."
Aku tidak membalas, aku memilih diam. Berharap perdebatan ini
selesai, atau aku lebih memilih hilang ditelan rak piring dari pada beradu
pendapat dengan orang yang aku hormati.
Ya tuhan, betapa malangnya aku. Tak seorang pun dari mereka
merestui aku, tak seprang pun, bantu aku melewati semua tuhan. Aku akan tetap
menulis meski tidak ada restu keluarga. Namu, meski tak kudapati restu itu, aku
tetap menulis ..