Selasa, 23 Juni 2015



Cerita Singkatku....

Aku bernama lengkap Meria Masriani Napitupulu. Lahir pada 07 Sepetember 1994, beralamat di Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Aku memiliki sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu, Kakak, Adik dan tidak mempunyai suadara lelaki. Kami hidup sederhana di sini, di kota yang dikenal dengan sebutan Kota Salak.
Aku menempuh pendidikan di salah satu Universitas Swasta di kotaku, tepatnya di Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan.  Aku mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan saat ini menduduki tingkat tiga atau yang sering disebut semester enam. Kebiasaan di kelasku tak asing bagi retinaku. Di sini aku temui berbagai rangkaian cerita yang berbeda setiap harinya. Dari teman-teman yang peduli pada tugas, yang berpura-pura peduli bahkan sampai pada teman yang sama sekali tidak peduli tugas. Berbeda dengan aku, meski belum tersmasuk mahasiswi yang pintar, namun aku selalu mengerjakan tugas dengan yang aku mampu. Di kelas ini banyak cerita yang dapat disuratkan. Datang pukul delapan tepat, istirahat pada pukul satu siang hingga pulang pukul tiga sore setelah semua kelas dinyatakan selesai. Di sini tempat semua bermula, di kelas English Departemen A.
Mengenai kisah di kampus yang aku cintai, tak luput pula kehadiran dosen sebagai bumbu pelengkap untuk meyempurnakan kisah hidup. Banyak dosen yang aku temui di kampus ini, semua berbeda karakter. Tidak ada yang sama. Hanya, mereka punya tujuan yang sama, yaitu untuk menyumbangkan ilmunya pada kami para mahasiswa. Dari beberapa dosen di kampusku, ada saja dosen yang tidak mengasyikkan bagiku. Dari cara beliau menyampaikan materi, sampai bagaimana ia harus menanggapi kami para mahasiswanya. Ada satu dosen yang sama sekali tidak ingin aku tiru perlakuannya, sebut saja beliau menjadi dosen yang menginspirasiku untuk lebih baik dari beliau. Beliau sering terlambat masuk kelas, bahkan hampir jarang sekali bertatap muka dengan kami. Di sini, aku tidak termasuk memojokkan beliau, hanya menyampaikan betapa aku sangat menghormati beliau, hingga pada tugas composotionku aku menarik kisahnya untuk aku jadikan pelajaran berharga. Ada  juga beberapa dosen yang sangat aku kagumi, bahkan yang mampu membuat api semangatku mendidih, tak lain itu dosen wanita yang masih muda dan berwajah mungil. Yang selalu marah ketika sapaannya tidak dijawab dengan bahasa inggris. Siapa lagi beliau kalau bukan? Ah, rasanya begitu janggal mengucapkan. Yang penting, beliau adalah dosen favoritku, berinisial R.S. Baiklah, anggap saja ini sebagai rangkaian kisah yang tak bermaksud membela atau pun memojokkan sebelah pihak.
Berbicara tentang ambisi, apa itu ambisi? Perlukah setiap insan berambisi? Jawab saja di hati masing-masing. Kembali kepadaku, aku tidak terlalu berambisi dalam hidup ini. Yang paling aku ingin saat ini adalah lulus tepat waktu, yaitu pada akhir tahun 2016 dari kampus yang telah membesarkan ilmuku. Juga adalah bekerja di salah satu instansi pemerintah baik negeri atau pun swasta. Dan, tak lupa pula adalah meneruskan apa yang telah aku bangun saat ini. Yaitu, memupuk ladang yang baru saja aku tanamani dengan secuil tulisan. Berharap akhir tahun ini aku mampu menerbitkannya dan menjadi makanan gurih bagi insan  penikmat dan pencinta sastra. Baiklah, aku rasa hanya itu yang dapat aku tuangkan dalam tarian tangan ini dan aku rasa ini  juga adalah sebuah ambisi. Sebut saja ambisi jika memang itu adalah ambisi. Salam …

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Kunjungi blog saya kakak, ketikajadiblogger.blogspot.com.

    BalasHapus