Minggu, 12 Februari 2017

Our Name


Part 1, diambil dari Novel "Jiwa yang Tak Bernyawa". Ditulis pada bulan Agustus 2015, oleh Meria M Napitupulu, dan sampai sekarang belum dipublish :D


JIWA YANG TAK BERNYAWA


Grace Alfriani. Nama kita. Kita bersepakat membuat nama itu. Nama yang menjadi symbol penyatuan dua jiwa, dua hati menjadi satu yang utuh. Grace berasal dari bahasa tetangga, Inggris, yang mempunyai makna “Berkat”. Sementara Alfriani adalah hasil penggabungan dari nama kita, Alfridin dan Masriani. Secara keseluruhan bisa disimpulkan bahwa nama kita agar menjadi berkat. Kapan dan di mana pun itu disebutkan.

***
Aku masih menatapi hiasan dinding yang terbentang di sana. Ia selalu mampu memesona hati dan jiwaku. Hiasan yang sudah empat tahun terpajang, tanpa ada seorang pun yang berani menurunkan atau bahkan membuang. Aku menatapinya sangat lama. Grace Alfriani. Itu yang terpajang di dinding berwarna ungu, di sebuah kamar yang besarnya memuat tiga orang maksimal. Kamar tempat di mana menenangkan tandusnya jiwa setelah kemarau yang menerpa. Ya. Itu kamarku. Tempat aku bercerita akan kenakalan dunia, tempat aku berteduh kala hujan membanjiri bumi.
Terasa hangat kedua pelupuk mataku ketika jemari lentikku menyentuh hiasan dinding itu. Apa yang terjadi? Aku membatin dengan sangat keras. Aku menangis untuk yang kesekian kalinya. Aku menangis dalam berbagai rasa yang kian hari kian pekat.
“Sayang, kamu ingat hari ini?” tanya Al seakan membuat aku ingin tahu sesuatu yang penting.
“Ini hari kamis, Sayang” jawabku simpul sembari tersenyum manja menatapnya, kekasihku.
“Bukan itu yang aku maksud, Sayang.” ucapnya membujuk.
“Lalu, apa?”
“Ini hari jadian kita, Sayang.”
“Benarkah?” balasku menggoda.
Al mengangguk.
“Sekarang, tutup matamu, aku ingin memberi kamu sesuatu.”
Aku menutup mata, dibantu dengan kedua tangannya yang kekar. Hatiku seketika berdegup kencang. Ia ingin keluar dan mendapati kebahagianku. Kupaksa ia bertahan di dalam. Karena, aku tidak mau bersikap berlebihan menyambut kebahagian dari pemilik hatiku, Alfridin.
“Sekarang, bukalah!”
Mataku melotot, lebih besar dari bola dunia atau yang disebut globe. Aku hampir tidak berkedip menatapnya, menahan separuh nafas yang hampir terhembus keluar. Aku merasa bunga-bunga bertaburan di hadapanku. Kupeluk tubuhnya yang tidak terlalu gemuk. Dekapanku semakin erat ketika kedua tangannya yang tulus menyambut tubuh mungilku. Kubenamkan wajahku ke dalam dadanya yang bidang, aku bahagia.
“Terima kasih, Sayang. Ini adalah kado terindah yang pernah aku dapatkan. Ini kamu sendiri yang buat, Sayang?”
“Tentu saja. Itu khusus aku berikan untuk yang teristimewa dalam hidupku, kamu.”
Senja yang indah di pinggir air terjun ini sungguh sangat memanjakan jiwa. Belaian angin menyapu lembut rambut hitamku, ia menggelitik lewat jendela kaca di sudut kafe itu. Cafe yang biasa dan selalu kami datangi kala berada dalam suka dan duka. Sijorni Cafe.
Aku bahagia dan Al juga. Kami masih menikmati siluet senja di pinggir air terjun. Meja nomor tujuh adalah persinggahan termanis kami. Sekaligus ia menjadi saksi bisu akan apa yang terjadi dalam hubungan kami. Dan, jika ada seseorang yang menanyakan kemesraan kami, suruhlah dia bertanya pada meja nomor tujuh di Sijorni Cafe. Dengan panjang lebar meja itu akan menjelaskan semuanya tentang aku dan Al.
“Sayang, kita pulang sekarang, ya?’ pintamu dengan sangat lembut.
“Sebentar lagi, Sayang.”
“Tidak. Kita harus pulang sekarang, Sayang. Nanti ibu dan ayah memarahi kita.”
Dengan berat hati, aku menurut. Begitulah aku dengan dia. Aku selalu menurut tentang yang dia pinta. Entah karena aku bodoh atau terlalu cinta. Entahlah. Namun, aku sadari pintanya kali ini adalah demi kebaikanku. Juga dia.
Lagi-lagi semilir angin di pantai itu menemani kami. Sekarang ia menghantar kami pulang ke istanaku yang berjarak lima kilometer saja dari Aek Sijorni, Sumatera Utara, tempat kami merajut kasih satu tahun silam.
Kami bergegas meninggalkan Sijorni Cafe. Al membelokkan motornya menuju rumah calon mertuanya, rumahku.
Lima menit. Sepuluh menit. Hingga tiga puluh menit. Kami sampai di halaman rumah yang halamannya dihiasi bunga mawar, melati dan kamboja. Kami mengayunkan kaki dengan seirama, sangat teratur dan indah dipandang.
Ayah dan ibu menyambut kami hangat. Al meminta izin kepada orangtuaku untuk menaruh hadiah itu dalam kamar dan mereka mengizinkan.
“Sempurna....” Hanya itu yang terbesit dari kedua bibir kami. Dan, kami menatapnya sangat bahagia. Kupeluk dia lagi dan kami bersatu dalam sebuah pelukan kasih.
“Riani,” suara lembut di balik pintu kamar membuyarkan kenangan manisku bersama dia yang aku cinta.
Ternyata beliau adalah wanita kehormatanku, wanita yang melahirkan aku dua puluh tahun silam. Dia ibuku, Anna. Ibu yang mengajarkan aku arti hidup serta yang membuka mataku untuk dapat menilai segala sesuatu yang ada di dalam dunia adalah baik adanya. Dia bertubuh kurus, pipinya tirus, rambutnya bergelombang dan warna kulitnya mewarisi daerah tropis tempat kami tinggal.

Rabu, 18 Januari 2017

Mencintai Ialah Kerelaan

Mataku masih menyimpan bayang wajah purnama, senyum indah, mata meneduhkan, pun serak suaranya masih mengiang di telingaku. Telah kucoba membuangnya dari pandangan, telah kumusnahkan dentingan suaranya, namun aku gagal untuk kesekian kali. Aku masih saja terpenjara pada jeruji kenangannya. Serupa seorang tahanan yang tak kunjung disidang oleh pihak pengadilan, lantaran orang sungguh tidak memerdulikan aku terkurung dalam bilik serupa kisah terdahulu dengannya.
Aku pernah meminta kepada Sang Penguasa untuk bebaskan aku dari keterpurukan ini, tapi Ia seperti tidak setuju. Ia masih membiarkan aku terus dalam kondisi sesukar ini, kata-Nya: “Sampai kau paham betul bahwa mencinta ialah kerelaan. Maka, tanpa Ku-jelaskan lagi kau pun pasti memahaminya.”
Untuk masa itu aku tidak paham mengapa Sang Penguasa mengatakan bahwa cinta ialah kerelaan. Hari lepas hari kutelusuri setiap perkataan, perbuatan-perbuatan, dan segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku. Hingga saat ini, saat aku tuliskan ini, barulah paham tentang “Mencintai ialah kerelaan”.
Kerelaan yang dimaksud ialah melepaskan meski tidak mampu, mencinta meski tidak dicinta, berkorban meski tidak dianggap, berjuang meski tidak dihargai dan mencintai ialah rela dalam hal apapun demi untuk kebahagian orang yang dicintai. Yang dapat kuartikan dari perbincanganku dengan Sang Penguasa ialah; “Melepaskan meski tidak mampu.”
Bicara tentang melepaskan, adakah sakit lain selain melepaskan? Melepaskan ia hidup bebas dalam dunianya, dengan pilihannya dan dengan apa saja yang membuatnya bahagia. Sulit memang untuk dilakukan jikalau benar mencintainya, tapi begitu hakikatnya mencinta. Merelakaan apapun itu. Apapun…………………….. Untuk kebahagiannya.
Sampai akhir tulisan ini, aku akan melepaskannya, Jika ditanya; apakah aku sanggup? Jelas aku menjawab, “Sangat tidak sanggup. Tetapi, Sang Penguasa sendiri yang akan menyanggupkan aku. Demikian yang Ia inginkan.”
Aku, aku yang masih mencintai dan candu merindukannya, harus tetap melepaskan meski sesungguhnya aku tidak akan mampu. Tetapi, satu hal yang mesti diketahui olehnya; “Meski aku melepasnya, aku tetap mencintanya sampai Sang Penguasa sendiri yang hentikan!”

Senin, 09 Januari 2017

Dipertemukan, bukan Dipersatukan.


            Aku masih mencintaimu diantara keraguan yang kau cipta, kegamangan yang kau bangun. Aku masih dan akan tetap cinta. Bukan karena aku tidak memiliki lelaki lain untuk mencintaiku, bukan pula karena hatiku sudah mati kepada lelaki lain selain kau. Aku hanya berusaha menjadi seorang perempuan yang setia. Setia pada perkataan, perbuatan dan segala yang menyangkut diriku.
            Pernah kukatakan secara langsung bahwa aku mencintaimu, pernah pula kuucapkan bahwa aku menginginkanmu, bahkan pernah memintamu untuk menjadi yang terakhir bagiku. Namun, tak sedikitpun yang kuutarakan kau indahkan. Alasannya masih tetap sama, kau masih milik seorang perempuan. Kau kekasihnya!.
            Beribu musim kulewati sendiri tanpa kau atau lelaki lain. Dalam diam aku memerhatikanmu, dalam temaram malam aku mencoba mencari bayangmu, dalam rinai hujan aku mencoba mencuri suaramu, tak satu jua kutemui. Sampai detik ini. Bukan aku tak mau secara langsung menghubungimu dan menemuimu, aku hanya takut niatku berujung penyesalan. Aku jua takut saat aku dan kau bersua, ada seseorang yang terpukul melihatnya, padahal ia tidak tahu yang sebenarnya. Sebetulnya aku hanya ingin melihat wajah purnama, mata meneduhkan dan senyum indahmu. Itu saja!
            Kukatakan untuk kesekian kali, bahwa aku akan dan selalu mencintaimu. Dan, aku hanya ingin cintamu, hanya ingin rindumu. Tak perlu kuberitahu mengenai alasan mengapa hanya kamu yang kuinginkan, karena sedari dulu sudah jelas kupaparkan semua. Dan, itu yang membuatmu bangga kepadaku---tempo dulu.
            Kalaulah boleh jujur, saat ini aku sangat merindukanmu. Aku ingin cerita dahulu terulang kembali. Pada suatu pagi di rumah berpanggung, ada secangkir kopi kuseduh, ada asap mengepul dan kau hirup aromanya. Kau sesap sesekali hingga tegukan terakhir, dan kau tersenyum puas karena berhasil menyeruput secangkir kopi panas yang khusus kusediakan untukmu. Saat itu, aku selalu berharap ada pagi yang lain. Agar setiap pagi aku dapat menghidangkan secangkir kopi panas untukmu dan kau dengan semangat meneguknya hingga tersisa ampas dan cangkir kosong.
            Namun, harapku hanya tinggal harap. Tinggal sudah harapku pada lantai, dinding kayu tempat kita bersua setiap hari. Bahkan kolong rumah tua tempat kita berkisah menangis lantaran kita tak pernah berujung sampai saat ini. Karena rumah tua tersebut tahu betul apa dan bagaimana kisah kita dahulu.
            Semenjak itu, tinggallah separuh jiwaku pada rumah tua berpanggung, dan separuh hidupku dipenjarakan di kota kelahiranmu. Semenjak itu pula aku tersadar, kita hanya dipertemukan bukan dipersatukan.
            Berbahagailah cinta, berbahagialah lelaki yang merenggut separuh aku. Barangkali dengan perempuanmu yang sekarang kau dapati bahagia melebihi ketika bersamaku. Biarkan aku sendiri menanggung derita ini, menampung airmata yang selalu membanjiri pipi ketika merindukanmu. Biar, biarkan aku terus begini sampai Tuhan sendiri yang hentikan!.


Selasa, 03 Januari 2017

Dulu, Sekarang dan Selamanya




Ketika aku sangat dan sangat merindukan seseorang dimasa lalu, aku menuliskan ini, tepat pada tanggal 26 Oktober 2015. Kala itu aku begitu mengenang segala tentangnya, padahal kisah bersama dia telah usai empat tahun. Ialah lelaki yang menjadi cinta pertamaku, kutemukan tulisan ini dalam tumpukan cerita dahulu. Ah, ternyata aku pernah sebegitu cintanya kepada seorang lelaki yang telah menyepakati nama Grace Alfriani.
Begini kepingan-kepingan cerita yang sampai hari ini kucoba satukan, cekidottttttt :)

DULU
Aku mampu tertawa dan menangis dalam waktu bersamaan. Mampu menari dalam tangisan langit, mampu melakukan hal apa pun yang aku anggap sulit bagiku. Aku mampu melakukan hal rumit dan melakukannya sangat tenang, sangat hati-hati dan tidak terbeban. Tapi, itu dahulu. Dahulu, saat aku masih bersama denganmu. Denganmu yang menjadi kekuatan di hari-hariku. Denganmu yang menjadi penganti sayapku yang patah, denganmu yang telah mendarah di jiwa.

KEMARIN
Aku seperti bukan diriku. Aku memang bukanlah aku, sekarang. Aku lebih banyak memilih diam, menatap nanar setiap yang melintas di netraku. Aku bukan diriku lagi! Aku kehilangan senyumku, tawaku juga kekuatanku. Aku kehilangan bagian dari diriku. Telah kucoba mencari hingga kakiku tidak kuat melangkah, telah kucoba mencari sinar matamu di antara hingarnya dunia. Telah kucoba mencari cinta lain dan yang kutemukan hanya seiris luka, sebongkah dusta dan segunung pengkhianatan.
Aku lelah melakukan ini semua. Aku muak!
Sesekali kamu harus berubah menjadi aku. Agar kamu tahu betapa letihnya jiwa ragaku mencari pecahan hati yang sedari dulu tertinggal di dalam dirimu. Aku hanya ingin itu kembali, agar hati dan jiwaku utuh seperti sedia kala disaat aku tidak mengenalmu. Saat aku belum dan tidak pernah meraskan cinta. Saat tidak ada seorang pun yang berani memelukku kali pertama dan terakhir saat kepergianmu dahulu. Saat kata aku dan kau tidak akan pernah menjadi kita.

SEKARANG
Kini, aku tertanam dalam sumur cintamu. Terkubur dalam lobang-lobang kenangan yang kamu gali sendiri. Aku terpenjara hanya karena rindu ini masih utuh milikmu. Lalu, dengan mimpi masa depan kita, apa yang harus aku lakukan? Akankah aku membunuh mimpi yang belum tumbuh? Atau akankah aku sendiri yang memupuk mimpi itu hingga merekah seperti fajar di ufuk timur? Dan, bagaimana jika ia mati? Tentu kamu akan bahagia. Namun jika ia hidup, merintih dan meminta sang penabur agar menjadi satu merawat ia, bagaimana? Apakah kamu akan melakukannnya? Apakah kamu akan kembali di sisiku, menyirami taman hati yang kita bangun? Memupuk buah-buah impian yang kini mulai layu? Atau, kamu bahkan tidak akan peduli tentang ini semua.
Aku resah; gelisah.
Aku semakin takut mengingatmu, sebab dengan mengenangmu membuat bulir-bulir bening membanjiri keduabelah pipiku. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi agar bayangmu tidak bemain di khayalku, agar namamu tidak tersimpan di memori, agar senyummu tidak terlukis di mataku, agar suaramu tidak mengiang di telingaku dan agar kamu benar-benar pergi dari kehidupanku. Apa yang akan aku lakukan? Haruskah aku mengakhiri perjalanan hidup ini?
Aku benar-benar belum bisa melupakan sosokmu dari hidupku. Bukan aku tidak mencoba atau bukan aku tidak mau. Lebih dari itu aku sudah lakukan. Dari menyimpan jauh semua pemberianmu, berteman dekat dengan lelaki, bahkan berpacaran aku sudah lakukan dengan segenap kekuatan. Saat berpacaran dengan lelaki lain, aku selalu bertingkah seperti saat denganmu. Namun, mereka tidak paham apa yang aku inginkan, mereka tidak peka tentang perasaan yang menumpuk di dadaku. Mereka tidak bisa melakukan yang kumau, karena mereka adalah bukan kamu. Sungguh, tidak ada yang sepertimu.