Mataku masih menyimpan
bayang wajah purnama, senyum indah, mata meneduhkan, pun serak suaranya masih
mengiang di telingaku. Telah kucoba membuangnya dari pandangan, telah
kumusnahkan dentingan suaranya, namun aku gagal untuk kesekian kali. Aku masih
saja terpenjara pada jeruji kenangannya. Serupa seorang tahanan yang tak
kunjung disidang oleh pihak pengadilan, lantaran orang sungguh tidak
memerdulikan aku terkurung dalam bilik serupa kisah terdahulu dengannya.
Aku pernah meminta
kepada Sang Penguasa untuk bebaskan aku dari keterpurukan ini, tapi Ia seperti
tidak setuju. Ia masih membiarkan aku terus dalam kondisi sesukar ini, kata-Nya:
“Sampai kau paham betul bahwa mencinta ialah kerelaan. Maka, tanpa Ku-jelaskan
lagi kau pun pasti memahaminya.”
Untuk masa itu aku
tidak paham mengapa Sang Penguasa mengatakan bahwa cinta ialah kerelaan. Hari
lepas hari kutelusuri setiap perkataan, perbuatan-perbuatan, dan segala sesuatu
yang terjadi dalam hidupku. Hingga saat ini, saat aku tuliskan ini, barulah
paham tentang “Mencintai ialah kerelaan”.
Kerelaan yang dimaksud
ialah melepaskan meski tidak mampu, mencinta meski tidak dicinta, berkorban
meski tidak dianggap, berjuang meski tidak dihargai dan mencintai ialah rela
dalam hal apapun demi untuk kebahagian orang yang dicintai. Yang dapat
kuartikan dari perbincanganku dengan Sang Penguasa ialah; “Melepaskan meski
tidak mampu.”
Bicara tentang
melepaskan, adakah sakit lain selain melepaskan? Melepaskan ia hidup bebas
dalam dunianya, dengan pilihannya dan dengan apa saja yang membuatnya bahagia.
Sulit memang untuk dilakukan jikalau benar mencintainya, tapi begitu hakikatnya
mencinta. Merelakaan apapun itu. Apapun…………………….. Untuk kebahagiannya.
Sampai akhir tulisan
ini, aku akan melepaskannya, Jika ditanya; apakah aku sanggup? Jelas aku menjawab,
“Sangat tidak sanggup. Tetapi, Sang Penguasa sendiri yang akan menyanggupkan
aku. Demikian yang Ia inginkan.”
Aku, aku yang masih
mencintai dan candu merindukannya, harus tetap melepaskan meski sesungguhnya
aku tidak akan mampu. Tetapi, satu hal yang mesti diketahui olehnya; “Meski aku
melepasnya, aku tetap mencintanya sampai Sang Penguasa sendiri yang hentikan!”


