Kamis, 27 Oktober 2016

Kumpulan Puisi terbaru Meria M Napitupulu








Kepergianmu

Aku akan pergi, katamu
Lantas kujawab; pergilah…

Aku mengayuh perahu ini sendiri
Kubawa  seturut hembusan angin
Apabila ia sampai di tempat yang tak kukenali
Biarlah kamu satu yang senantiasa kukenal

Dengan cara apa?
Ada segurat wajah pelangi
Bermata purnama
Dalam selembar foto yang (dahulu) kau berikan
           



Tujuh Sentimeter

Apa lagi yang dapat kulakukan
Ketika rindu menghampiri?
Selain hanya memandang pahat rupa di fotomu
Kutaruh di dada
Berharap kau ‘kan mendengar degup jantungku
Yang dalam setiap detik jarum jam mengumandangkan namamu

Sungguh,
Aku begitu rindu
Ingin rasanya kuselami lautan
Kuarungi samudera
Terbang tinggi bak seekor rajawali
Melintasi gunung yang menjulang
Demi hanya untuk bersua
Menatap wajahmu
Menghirup bau tubuhmu
Dalam jarak tujuh sentimeter




Menggadaikan Cinta dan Rindu

Aku sempat menggadaikan cinta kepada langit
Rindu pun ikut kujual pada angin
Sebab dirimu tak sudi kucinta dan kurindu(lagi)
Kata mereka tempo hari

Suatu malam, langit memakiku dengan kasar
Ia memuaskan amarahnya dengan letupan kilat dan petir
Dapat kupahami maksudnya
Katanya; aku terlalu bodoh berani menggadaikan harta paling berharga
Katanya; aku tak berpikir jernih untuk mencipta keputusan
Katanya, katanya, katanya….
Ah, terlalu banyak katanya tak dapat kutuliskan lagi

Kini awan bergelayut manja
Nyanyian burung merdu terdengar
Angin dengan kasar menampar pipiku dari daun jendela kamar
Ia berbisik;
Perkataan orang hanya batu sandungan
Bak kerikil menghadang langkahmu(nya)
Lantas, kau mau kalah begitu saja?
Aku terdiam; merenung sejenak
Dalam diam aku tertidur pulas
Pada mimpiku alam kini bertoreh warna; gelap
Semilir angin habis menjambak rambut ikalku
Hujan malam ini pun serentak meludahi
Katanya; kembalikan cinta dan rindumu
Kami tidak pantas mendapatkan
Kami tak akan sanggup membayar harta semahal itu
Sesungguhnya seorang anak lelaki lebih membutuhkan
Dialah yang sejatinya memperjuangkanmu
Lewat doa-doa yang tiada lelah ia sembahkan setiap malam
Terkadang pun ia menitip rindu kepada kami
Dari ujung pulau Indonesia, Papua





Penghalang Rindu

Untuk kesekian kali rinduku ditentang
Bukan oleh jarak penghalang
Tak lain hanya orang di seberang
Melihat kau dan aku tak senang





Abadi Satu

Jika rindu kuabadikan
Tentu namamu dasarnya
Jika rindu kutuliskan
Tentu namamu alasannya

Tak ada yang lain
Sebab dirimu kuingin
Tak akan pernah terganti
Sebab dirimu kuminati

Sungguh, percayalah
Dirimu ialah kesanggupan
Mau atau pun menolak
Dirimu tak akan kulepaskan




Angin, Berkenankah Dikau?

Angin, berkenankah dikau membawa pesanku?
Pada seorang insan yang tak bisa kutatap
Pada seorang anak lelaki yang tak  bisa kupeluk?
Sebut saja ia kekasih hatiku

Katakan padanya;
Senantiasa kunanti kepulangannya
Bak padang gurun merindukan hujan
Untuk memuaskan dahaga; entah sampai kapan

Saat langit bosan menyaksikan penantian padang gurun
Sejatinya langit menjatuhkan bulir-bulir hujan
Demikian Sang Khalik
Sampai Ia bosan mendengar namamu lewat doa yang kuhantar
Hingga hatimu Ia ketuk untuk segera pulang
Menemui dan bersua denganku





Matamu Keteduhanku

Pada lautan matamu kutemukan keteduhan
Ingin rasanya aku tenggelam di sana
Berdiam dan bertahan
Untuk selamanya





Hal yang Perlu Kau Ketahui

Hei, tahukah kau?
Dalam kesunyian malam netraku tak henti mencari bayangmu
Telingaku tak lelah merekam serak suaramu lewat desiran angin
Jiwa bergejolak ingin memelukmu walau hanya tujuh detik

Hei, tahukah kau?
Meskipun kau dan aku tak saling menyapa
Tak saling berucap cinta dan rindu(lagi)
Aku tak akan memberontak
Tak akan berlari dan meninggalkanmu
Lebih baik aku diam sembari menunggu
Hingga kau akan tersadar bahwa aku setia menanti
Sampai kapan pun





Izinkan Aku Membohongimu

Untuk satu masa izinkan aku membohongimu
Kala kau berkata,
“Tak akan lama lagi aku akan pergi,”
Disusul dengan kalimat,
“Tak mengapa jika aku meninggalkanmu semusim?”
Lantas ‘kan kujawab,
“Tak mengapa, Sayang. Aku akan baik-baik saja.”

Percayalah, saat aku mengatakan “Aku baik-baik saja.”
Sesungguhnya ada yang tidak beres
Entah hatiku sedih
Batinku menangis lirih
Mengisyaratkan betapa aku tidak ingin kau pergi
Kumohon, pahamilah!





Hilang Arah

Ada masa dimana airmata membanjiri wajah
Bukan karena kepiluan merajalela
Bukan pula karena kabahagian menyapa
Tak lain hanya karena rinduku tak menemui arah






Perahu Cinta

Kau pernah berkata perihal perahu
Teman yang mengantarmu ke dalam pepulau asing
Katamu;
Dahulu aku mengayuh perahu seorang diri
Rasanya aku tak sanggup sendiri(lagi)
Aku ingin mengayuh bersama
Dalam kurun waktu yang tidak sebentar
Sebab jauh hari sudah kucipta dermaga milik kita
Tepat di pinggir lautan luas
Tempat kita dapat menyaksikan semburat senja
Bersama kicau beburung di angkasa
Tidak luput semilir angin menari riang pada dedaun kelapa
Hingga kita menyatu dalam satu rasa, tak mau kehilangan





Sumatera-Papua

Siapa bilang Sumatera-Papua(sangat) jauh?
Siapa pula mengatakan jarak akan menjadi penghalang?
Aku menyangkal kekata orang bebal
Yang hanya mampu bersuara tanpa memberi bukti

Aku tegaskan Sumatera-Papua hanya sejauh doa
Seperti ketika berbicara kepada Sang Khalik dalam dedoa
Bukankah jua Bumi-Surga berjarak?

Aku perjelas jarak ialah hanya jembatan panjang penyatu rindu
Ketika rindu berhadir, maka hati menelusuri jejalannya
Bukankah hanya jembatan panjang?





Menjadi Penjahat

Kau sungguh jauh dari peulupuk mata
Selain pepulau menghadang
Gegunung menjulang
Pepohon liar pun ikut menghalang

Karena itu aku sempat berpikir berubah menjadi seorang penjahat
Demi kau
Demi cintamu
Bukan barangkali, namun pasti

Akan kutebas pepohon; kurakit menjadi perahu
Kuratakan gegunung
Kuarungi samudera
Untuk bersua denganmu




Ri, Dengarkan Aku..

Ri, aku paham maksud amarahmu
Aku turut merasa deritamu
Untuk itu aku datang
Barangkali kau butuh pundak
Tempat bersandar dan memuntahkan segala rasamu

Ri, aku lihat jelas hatimu
Aku tak memberontak
Namun kamu harus tahu; ada aku
Seseorang yang akan mengganti
Segala sesuatu yang tidak kau dapat dari lelaki pertamamu

Ri, kau harus sadari
Lihat dan tatap mataku
Kaulah satu yang akan kuperjuangkan
Membahagiakanmu dan membuatmu lupa
Tentang luka tempo hari dari lelaki pertamamu
Ialah ayahmu sendiri




Berjarak Bukan Berarti Jauh

Aku tak akan mampu memangkas waktu
Aku tak akan mampu menerobos dinding penghalang
Sejatinya aku tak punya kekuatan sedahsyat itu

Berjarak bukan berarti jauh
Dalam sekejap
Aku dapat bersua

Ialah dengan mengedipkan mata
Niscaya bayang wajahmu hadir sukarela
Menemani ruang khayalku
Kamu percaya, bukan?




Sesakit Rindu

Tiada derita sesakit rindu
Kau pun meng-amini
Sebab kau sudah tahu
Warna-warni(nya)

Seperti malam kemarin
Katamu rindu bertandang
Kau pun menangis tak beraturan
Sebab jarak dan waktu menghadang




Seperti Telur

Kepercayaan tak ubahnya seperti telur
Sekali retak; pecah
Tak akan bisa utuh kembali
Demikian dengan apa yang kutitip padamu
Harapku; kau menjaga senantiasa
Hingga aku datang kembali
Ucapmu di sore itu saat semburat senja berhadir





Jika Aku Pergi(Selamanya)

Waktuku tak akan lama
Barangkali pada akhir tahun ini
Tidak!
Rasanya hari terakhir dalam bulan yang sekarang
Aku tidak tahu harus melakukan apa
Tentang tanya
Tentang cinta
Tentang penantian
Tentang rindu
Tentang segalanya

Akan aku apakan setelah aku tiada(selamanya)?
Kubawa?
Kubuang?
Ah, otakku selalu tumpul ketika memikirkan hal semacam itu
Sesungguhnya aku tak akan sanggup





Mimpi yang Tak Usai

Kemarin aku bermimpi
Kau datang bersama senyum si raja siang
Membawa sebuah pelangi
Yang akan kau ikatkan pada rambut ikalku

Kemarin aku bermimpi
Kau datang bersama rerintik hujan sore itu
Sembari berkata;
Lihatlah, Dik, hujan ialah genangan rinduku

Kemarin aku bermimpi
Kau datang sembari berbisik;
Dik, akan kuhalkankan kau
Sebentar lagi, bersabarlah….

Kemarin.. kemarin…
Aku selalu bermimpi tentang kamu
Entah sampai kapan mimpi itu menghantui malamku
Terkadang aku tersiksa olehnya




Lelaki Masa Kini

Kamu
Lelaki bermata pedang
Menatap hingga menghujam jantung

Kamu
Lelaki berseyum mentari
Meneduhkan hari-hari

Kamu
Lelaki berhati malaikat
Mencinta tanpa syarat

Kamu
Lelaki masa kini
Hanya untuk diri ini






Tentang Penulis:

            Meria Masriani Napitupulu, nama lengkap dari akun faceboook Meria M Napitupulu, sekaligus pemilik nama pena Gadis yang Merindu. Lahir di Lumbanpinasa, 07 September dan berdomisili di Padangsidimpuan, Sumatera Utara.
            Penulis antologi puisi Aksara Gadis yang Merindu, antologi cerpen Telaga Tirta, tercatat sebagai seorang mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan. Penyuka cokelat, penikmat kopi, dan pecinta ruang sunyi bisa disapa melalui e-mail: napitmeria998@gmail.com.

3 komentar:

  1. Hai dek,, Aku Sondang,, anak UGN juga. Salam kenal ya.. :) Bagus puisi karyamu dek,, salut untukmu.. aku paling suka "Penghalang Rindu". Kamu anak muda yang keren.. sukses untukmu..
    (tadi aku buka fb, aku liat kamu promosikan blog kamu ke Bincar nasution, aku suka membaca, jadi aku penasaran karya-karyamu dan langsung cari tau,, heheh boleh ya aku follow tulisanmu dek.. :))

    BalasHapus
  2. Hai, Kakak :) Salam kenal :) Terima kasih atas apresiasinya ya ({}) Tentu, dengan senang hati .. Terima aksih dan jangan bosan untuk mengunjungi dan meninggalkan jejak di postinganku ya, kak :)
    Gbu :)

    BalasHapus