Kepergianmu
Aku
akan pergi, katamu
Lantas
kujawab; pergilah…
Aku
mengayuh perahu ini sendiri
Kubawa seturut hembusan angin
Apabila
ia sampai di tempat yang tak kukenali
Biarlah
kamu satu yang senantiasa kukenal
Dengan
cara apa?
Ada
segurat wajah pelangi
Bermata
purnama
Dalam
selembar foto yang (dahulu) kau berikan
Tujuh Sentimeter
Apa
lagi yang dapat kulakukan
Ketika
rindu menghampiri?
Selain
hanya memandang pahat rupa di fotomu
Kutaruh
di dada
Berharap
kau ‘kan mendengar degup jantungku
Yang
dalam setiap detik jarum jam mengumandangkan namamu
Sungguh,
Aku
begitu rindu
Ingin
rasanya kuselami lautan
Kuarungi
samudera
Terbang
tinggi bak seekor rajawali
Melintasi
gunung yang menjulang
Demi
hanya untuk bersua
Menatap
wajahmu
Menghirup
bau tubuhmu
Dalam
jarak tujuh sentimeter
Menggadaikan Cinta dan Rindu
Aku
sempat menggadaikan cinta kepada langit
Rindu
pun ikut kujual pada angin
Sebab
dirimu tak sudi kucinta dan kurindu(lagi)
Kata
mereka tempo hari
Suatu
malam, langit memakiku dengan kasar
Ia
memuaskan amarahnya dengan letupan kilat dan petir
Dapat
kupahami maksudnya
Katanya;
aku terlalu bodoh berani menggadaikan harta paling berharga
Katanya;
aku tak berpikir jernih untuk mencipta keputusan
Katanya,
katanya, katanya….
Ah,
terlalu banyak katanya tak dapat kutuliskan lagi
Kini
awan bergelayut manja
Nyanyian
burung merdu terdengar
Angin
dengan kasar menampar pipiku dari daun jendela kamar
Ia
berbisik;
Perkataan
orang hanya batu sandungan
Bak
kerikil menghadang langkahmu(nya)
Lantas,
kau mau kalah begitu saja?
Aku
terdiam; merenung sejenak
Dalam
diam aku tertidur pulas
Pada
mimpiku alam kini bertoreh warna; gelap
Semilir
angin habis menjambak rambut ikalku
Hujan
malam ini pun serentak meludahi
Katanya;
kembalikan cinta dan rindumu
Kami
tidak pantas mendapatkan
Kami
tak akan sanggup membayar harta semahal itu
Sesungguhnya
seorang anak lelaki lebih membutuhkan
Dialah
yang sejatinya memperjuangkanmu
Lewat
doa-doa yang tiada lelah ia sembahkan setiap malam
Terkadang
pun ia menitip rindu kepada kami
Dari
ujung pulau Indonesia, Papua
Penghalang Rindu
Untuk
kesekian kali rinduku ditentang
Bukan
oleh jarak penghalang
Tak
lain hanya orang di seberang
Melihat
kau dan aku tak senang
Abadi Satu
Jika
rindu kuabadikan
Tentu
namamu dasarnya
Jika
rindu kutuliskan
Tentu
namamu alasannya
Tak
ada yang lain
Sebab
dirimu kuingin
Tak
akan pernah terganti
Sebab
dirimu kuminati
Sungguh,
percayalah
Dirimu
ialah kesanggupan
Mau
atau pun menolak
Dirimu
tak akan kulepaskan
Angin, Berkenankah Dikau?
Angin,
berkenankah dikau membawa pesanku?
Pada
seorang insan yang tak bisa kutatap
Pada
seorang anak lelaki yang tak bisa
kupeluk?
Sebut
saja ia kekasih hatiku
Katakan
padanya;
Senantiasa
kunanti kepulangannya
Bak
padang gurun merindukan hujan
Untuk
memuaskan dahaga; entah sampai kapan
Saat
langit bosan menyaksikan penantian padang gurun
Sejatinya
langit menjatuhkan bulir-bulir hujan
Demikian
Sang Khalik
Sampai
Ia bosan mendengar namamu lewat doa yang kuhantar
Hingga
hatimu Ia ketuk untuk segera pulang
Menemui
dan bersua denganku
Matamu Keteduhanku
Pada
lautan matamu kutemukan keteduhan
Ingin
rasanya aku tenggelam di sana
Berdiam
dan bertahan
Untuk
selamanya
Hal yang Perlu Kau Ketahui
Hei,
tahukah kau?
Dalam
kesunyian malam netraku tak henti mencari bayangmu
Telingaku
tak lelah merekam serak suaramu lewat desiran angin
Jiwa
bergejolak ingin memelukmu walau hanya tujuh detik
Hei,
tahukah kau?
Meskipun
kau dan aku tak saling menyapa
Tak
saling berucap cinta dan rindu(lagi)
Aku
tak akan memberontak
Tak
akan berlari dan meninggalkanmu
Lebih
baik aku diam sembari menunggu
Hingga
kau akan tersadar bahwa aku setia menanti
Sampai
kapan pun
Izinkan Aku Membohongimu
Untuk
satu masa izinkan aku membohongimu
Kala
kau berkata,
“Tak
akan lama lagi aku akan pergi,”
Disusul
dengan kalimat,
“Tak
mengapa jika aku meninggalkanmu semusim?”
Lantas
‘kan kujawab,
“Tak
mengapa, Sayang. Aku akan baik-baik saja.”
Percayalah,
saat aku mengatakan “Aku baik-baik saja.”
Sesungguhnya
ada yang tidak beres
Entah
hatiku sedih
Batinku
menangis lirih
Mengisyaratkan
betapa aku tidak ingin kau pergi
Kumohon,
pahamilah!
Hilang Arah
Ada
masa dimana airmata membanjiri wajah
Bukan
karena kepiluan merajalela
Bukan
pula karena kabahagian menyapa
Tak
lain hanya karena rinduku tak menemui arah
Perahu Cinta
Kau
pernah berkata perihal perahu
Teman
yang mengantarmu ke dalam pepulau asing
Katamu;
Dahulu
aku mengayuh perahu seorang diri
Rasanya
aku tak sanggup sendiri(lagi)
Aku
ingin mengayuh bersama
Dalam
kurun waktu yang tidak sebentar
Sebab
jauh hari sudah kucipta dermaga milik kita
Tepat
di pinggir lautan luas
Tempat
kita dapat menyaksikan semburat senja
Bersama
kicau beburung di angkasa
Tidak
luput semilir angin menari riang pada dedaun kelapa
Hingga
kita menyatu dalam satu rasa, tak mau kehilangan
Sumatera-Papua
Siapa
bilang Sumatera-Papua(sangat) jauh?
Siapa
pula mengatakan jarak akan menjadi penghalang?
Aku
menyangkal kekata orang bebal
Yang
hanya mampu bersuara tanpa memberi bukti
Aku
tegaskan Sumatera-Papua hanya sejauh doa
Seperti
ketika berbicara kepada Sang Khalik dalam dedoa
Bukankah
jua Bumi-Surga berjarak?
Aku
perjelas jarak ialah hanya jembatan panjang penyatu rindu
Ketika
rindu berhadir, maka hati menelusuri jejalannya
Bukankah
hanya jembatan panjang?
Menjadi Penjahat
Kau
sungguh jauh dari peulupuk mata
Selain
pepulau menghadang
Gegunung
menjulang
Pepohon
liar pun ikut menghalang
Karena
itu aku sempat berpikir berubah menjadi seorang penjahat
Demi
kau
Demi
cintamu
Bukan
barangkali, namun pasti
Akan
kutebas pepohon; kurakit menjadi perahu
Kuratakan
gegunung
Kuarungi
samudera
Untuk
bersua denganmu
Ri, Dengarkan Aku..
Ri,
aku paham maksud amarahmu
Aku
turut merasa deritamu
Untuk
itu aku datang
Barangkali
kau butuh pundak
Tempat
bersandar dan memuntahkan segala rasamu
Ri,
aku lihat jelas hatimu
Aku
tak memberontak
Namun
kamu harus tahu; ada aku
Seseorang
yang akan mengganti
Segala
sesuatu yang tidak kau dapat dari lelaki pertamamu
Ri,
kau harus sadari
Lihat
dan tatap mataku
Kaulah
satu yang akan kuperjuangkan
Membahagiakanmu
dan membuatmu lupa
Tentang
luka tempo hari dari lelaki pertamamu
Ialah
ayahmu sendiri
Berjarak Bukan Berarti Jauh
Aku
tak akan mampu memangkas waktu
Aku
tak akan mampu menerobos dinding penghalang
Sejatinya
aku tak punya kekuatan sedahsyat itu
Berjarak
bukan berarti jauh
Dalam
sekejap
Aku
dapat bersua
Ialah
dengan mengedipkan mata
Niscaya
bayang wajahmu hadir sukarela
Menemani
ruang khayalku
Kamu
percaya, bukan?
Sesakit Rindu
Tiada
derita sesakit rindu
Kau
pun meng-amini
Sebab
kau sudah tahu
Warna-warni(nya)
Seperti
malam kemarin
Katamu
rindu bertandang
Kau
pun menangis tak beraturan
Sebab
jarak dan waktu menghadang
Seperti Telur
Kepercayaan
tak ubahnya seperti telur
Sekali
retak; pecah
Tak
akan bisa utuh kembali
Demikian
dengan apa yang kutitip padamu
Harapku;
kau menjaga senantiasa
Hingga
aku datang kembali
Ucapmu
di sore itu saat semburat senja berhadir
Jika Aku Pergi(Selamanya)
Waktuku
tak akan lama
Barangkali
pada akhir tahun ini
Tidak!
Rasanya
hari terakhir dalam bulan yang sekarang
Aku
tidak tahu harus melakukan apa
Tentang
tanya
Tentang
cinta
Tentang
penantian
Tentang
rindu
Tentang
segalanya
Akan
aku apakan setelah aku tiada(selamanya)?
Kubawa?
Kubuang?
Ah,
otakku selalu tumpul ketika memikirkan hal semacam itu
Sesungguhnya
aku tak akan sanggup
Mimpi yang Tak Usai
Kemarin
aku bermimpi
Kau
datang bersama senyum si raja siang
Membawa
sebuah pelangi
Yang
akan kau ikatkan pada rambut ikalku
Kemarin
aku bermimpi
Kau
datang bersama rerintik hujan sore itu
Sembari
berkata;
Lihatlah,
Dik, hujan ialah genangan rinduku
Kemarin
aku bermimpi
Kau
datang sembari berbisik;
Dik,
akan kuhalkankan kau
Sebentar
lagi, bersabarlah….
Kemarin..
kemarin…
Aku
selalu bermimpi tentang kamu
Entah
sampai kapan mimpi itu menghantui malamku
Terkadang
aku tersiksa olehnya
Lelaki Masa Kini
Kamu
Lelaki
bermata pedang
Menatap
hingga menghujam jantung
Kamu
Lelaki
berseyum mentari
Meneduhkan
hari-hari
Kamu
Lelaki
berhati malaikat
Mencinta
tanpa syarat
Kamu
Lelaki
masa kini
Hanya
untuk diri ini
Tentang
Penulis:
Meria Masriani Napitupulu, nama lengkap dari akun faceboook
Meria M Napitupulu, sekaligus pemilik nama pena Gadis yang Merindu. Lahir di
Lumbanpinasa, 07 September dan berdomisili di Padangsidimpuan, Sumatera Utara.
Penulis
antologi puisi Aksara Gadis yang Merindu, antologi cerpen Telaga Tirta,
tercatat sebagai seorang mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di
Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan. Penyuka cokelat, penikmat kopi, dan pecinta ruang sunyi
bisa disapa melalui e-mail: napitmeria998@gmail.com.

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusHai dek,, Aku Sondang,, anak UGN juga. Salam kenal ya.. :) Bagus puisi karyamu dek,, salut untukmu.. aku paling suka "Penghalang Rindu". Kamu anak muda yang keren.. sukses untukmu..
BalasHapus(tadi aku buka fb, aku liat kamu promosikan blog kamu ke Bincar nasution, aku suka membaca, jadi aku penasaran karya-karyamu dan langsung cari tau,, heheh boleh ya aku follow tulisanmu dek.. :))
Hai, Kakak :) Salam kenal :) Terima kasih atas apresiasinya ya ({}) Tentu, dengan senang hati .. Terima aksih dan jangan bosan untuk mengunjungi dan meninggalkan jejak di postinganku ya, kak :)
BalasHapusGbu :)