Dari mana kisah ini akan kumulai, sedang ketika bertemu denganmu dahulu ialah sebuah kebetulan. Aku yang dimasa itu ada di kota kelahiranmu, ada di tempat kau berdiam hanya karena sebuah tugas yang menuntutku di sana selama empat puluh lima hari, sedang kau pun mengadakan pertemuan itu hanya karena tanggung jawabmu. Semula aku tidak mengindahkan pertemuan itu, bahkan sangat tidak mengindahkan. Namun, apakah kamu tahu sejak terjadi pertemuan-pertemuan antara kita, entah sengaja maupun tidak sengaja, sejak ada gandeng tangan di sebuah kebun milik temanmu, sejak ada malam untuk dilewati berdua, sejak itu semua aku mulai tertegun padamu. Pada sosokmu, pada pribadimu yang menurut tangkapan mataku kau pribadi yang pantas untuk dindahkan.
Kau tahu, semasa di kota kelahiranmu aku begitu tertegun. Tentang perlakuanmu, tentang ketulusanmu, tentang segalanya yang pernah kau lakukan. Aku berpikir masa itu aku ialah seseorang yang betul-betul kau indahkan, kau cinta bahkan kau perioritaskan. Tapi, ada satu masa dimana sebuah kebenaran yang selama ini terselubung menjadi tersingkap. Aku mendapati kau seperti bukan dirimu, yang pada kenyataan kau telah memiliki kekasih.
Lantas, aku ini kau anggap?
Katamu; aku perempuan yang kau cinta, perempuan yang selalu kau rindukan hadirnya. Namun semua berbanding terbalik. Kebenarannya ialah aku bukan seperti yang kau lakukan, tapi seperti yang orang-orang kata.
Kini, kusadari akulah yang berimajinasi terlalu tinggi, hingga aku lupa siapa aku sebenarnya.
Yang patut kau ketahui ialah; aku masihlah mencintaimu dalam-dalam dan biarkan aku mengangumi diam-diam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar