Jumat, 30 Desember 2016

Surat Perempuan untuk Perempuan


Aku perempuan, demikian denganmu. Kita sama-sama perempuan. Empat bulan penuh aku mencuri lelakimu, mencuri separuh cintanya, hingga ia mencintamu setengah hati. Maafkan ketamakanku, maafkan keegoisanku, maafkan tentang segala hal yang selama ini terjadi.
Kau harus tahu; jangan menyalahkan lelakimu sepenuhnya.  Benar bahwa ia mendekatiku lebih dahulu, memerhatikanku lebih dari perhatian seorang teman, ia memerdulikanku lebih dari aku memerdulikan diriku. Tapi aku meminta kepadamu; jangan menyalahkan dia, jangan meninggalkan dia hanya karena persoalan seperti ini. Yang sebetulnya salah ialah aku. Aku yang salah. Sejak awal aku sudah tahu bahwa dia memilikimu, dia sudah milik seorang perempuan cantik berambut lurus, bertubuh langsing, berpipi tirus, berhidung mancung, memiliki senyum indah, baik hati, juga mencintai dia dengan sangat. Dia sudah sepenuhnya milikmu.
Awalnya kedekatan kami memang hanya sebatas tanggungjawab, dia hadir begitu tepat. Saaat aku dalam keterpurukan, kesedihan, kesepian, ia hadir sangat dan terlalu tepat. Segala yang ia lakukan begitu baik adanya. Dari tatapan, tutur kata, perbuatan dan segala hal yang pernah terjadi antara aku dan dia sangatlah baik. Barangkali aku yang terlalu menyikapi berlebihan. Aku dulunya berpikir itu semua hanya belas kasih semata, namun dia lelakimu menegaskan yang dia lakukan bukan hanya belas kasih tapi berlandaskan kasih sayang yang tulus. Kau tahu; itu seperti sebuah kekuatan untukku. Dia mengucapkan itu seperti memberikan aku tambahan usia di dunia ini.
Begitu selama tigapuluh hari aku dan dia lewati bersama di kota kelahirannya, kota yang mempertemukan aku dengan dia, kota yang juga menjadi saksi tentang kisah dan ceritaku dan dia selama ini.
Jangan, jangan sedikitpun beranggapan bahwa dia lelaki bejat, dia lelaki terjahat, dia tetap lelaki terhebat kepunyaanmu. Meski aku dan dia pernah punya cerita selama ada kau di sisinya, aku berharap itu tidak mengurangi rasa percaya, cinta yang ada dalam hatimu untuknya. Serupa dengan dia, meski ada aku dimasa kau tidak ada, itu tidak mengurangi rasa cinta dan percayanya kepadamu di kota kau mencari ilmu.
Dia lelakimu masih sama seperti lelaki yang memintamu menjadi kekasihnya, yang mengucapkan cinta di hadapanmu, yang menggenggam erat jemarimu, dan yang dengan lembut selalu mengecup keningmu setiap malam sebelum kau terlelap. Dia masih lelakimu, serupa seperti dahulu. Meski aku pernah mencuri setengah hatinya, tetapi telah kukembalikan lagi di akhir bulan Desember ini untuk utuh mencintaimu seperti bertahun-tahun silam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar