Aku perempuan, demikian
denganmu. Kita sama-sama perempuan. Empat bulan penuh aku mencuri lelakimu,
mencuri separuh cintanya, hingga ia mencintamu setengah hati. Maafkan
ketamakanku, maafkan keegoisanku, maafkan tentang segala hal yang selama ini
terjadi.
Kau harus tahu; jangan
menyalahkan lelakimu sepenuhnya. Benar
bahwa ia mendekatiku lebih dahulu, memerhatikanku lebih dari perhatian seorang
teman, ia memerdulikanku lebih dari aku memerdulikan diriku. Tapi aku meminta
kepadamu; jangan menyalahkan dia, jangan meninggalkan dia hanya karena
persoalan seperti ini. Yang sebetulnya salah ialah aku. Aku yang salah. Sejak
awal aku sudah tahu bahwa dia memilikimu, dia sudah milik seorang perempuan
cantik berambut lurus, bertubuh langsing, berpipi tirus, berhidung mancung,
memiliki senyum indah, baik hati, juga mencintai dia dengan sangat. Dia sudah
sepenuhnya milikmu.
Awalnya kedekatan kami
memang hanya sebatas tanggungjawab, dia hadir begitu tepat. Saaat aku dalam
keterpurukan, kesedihan, kesepian, ia hadir sangat dan terlalu tepat. Segala
yang ia lakukan begitu baik adanya. Dari tatapan, tutur kata, perbuatan dan
segala hal yang pernah terjadi antara aku dan dia sangatlah baik. Barangkali
aku yang terlalu menyikapi berlebihan. Aku dulunya berpikir itu semua hanya
belas kasih semata, namun dia lelakimu menegaskan yang dia lakukan bukan hanya
belas kasih tapi berlandaskan kasih sayang yang tulus. Kau tahu; itu seperti
sebuah kekuatan untukku. Dia mengucapkan itu seperti memberikan aku tambahan
usia di dunia ini.
Begitu selama tigapuluh
hari aku dan dia lewati bersama di kota kelahirannya, kota yang mempertemukan
aku dengan dia, kota yang juga menjadi saksi tentang kisah dan ceritaku dan dia
selama ini.
Jangan, jangan
sedikitpun beranggapan bahwa dia lelaki bejat, dia lelaki terjahat, dia tetap
lelaki terhebat kepunyaanmu. Meski aku dan dia pernah punya cerita selama ada
kau di sisinya, aku berharap itu tidak mengurangi rasa percaya, cinta yang ada
dalam hatimu untuknya. Serupa dengan dia, meski ada aku dimasa kau tidak ada,
itu tidak mengurangi rasa cinta dan percayanya kepadamu di kota kau mencari
ilmu.
Dia lelakimu masih sama
seperti lelaki yang memintamu menjadi kekasihnya, yang mengucapkan cinta di
hadapanmu, yang menggenggam erat jemarimu, dan yang dengan lembut selalu
mengecup keningmu setiap malam sebelum kau terlelap. Dia masih lelakimu, serupa
seperti dahulu. Meski aku pernah mencuri setengah hatinya, tetapi telah
kukembalikan lagi di akhir bulan Desember ini untuk utuh mencintaimu seperti
bertahun-tahun silam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar