Rabu, 07 Desember 2016

Aku Bukan Aku semenjak Ciuman Pertama



Aku kehilangan jiwa, kehilangan sebahagian diri, kehilangan apa yang selama ini kuperjuangkan selama dua puluh dua tahun. Semenjak dihari ulang tahunku kau mencurinya, kau merenggutnya. Ialah ciumanan pertama yang yang terjadi antara kita di puncak bersuhu dingin. Di bawah sebuah pohon yang rindang, kiri-kanan ada semak belukar yang tengah menari riang lantaran angin membelai dedaunan milik mereka. Sedang aku dan kau terjerembab dalam situasi yang sampai saat ini tak dapat kupahami, tak dapat kumengerti bahkan tak dapat kulupakan.
Saat kita duduk berdua, menatap ke jantung kota dimana kau terlahir, diam-diam kau memerhatikanku, aku pun terdiam. Dalam-dalam kau menginginkan aku, aku tahu itu. Jangan kau tanya dari mana aku tahu, aku tahu dari binar kedua bola matamu yang seolah ikut membuatku tercengang. Masa itu ada sesuatu yang bergetar, entah dada atau bahkan diri. Kau mendekat, mendekap semakin erat, aku yang tidak harus melakukan apa-apa hanya terpaku. Mendekat, semakin dekat. Kedua belah bibirmu mengecup belahan bibir atasku. Lembut, terasa hangat. Aku merasa semakin bergetar, seperti kesetrum. Kau lepas, kau ulangi, lagi dan lagi. Hingga aku mencoba menepis, dengan lembut kau berbisik, “Aku menyanyangimu! Biarkan ini menjadi sesuatu yang tak akan kau lupa selamanya, dik. Dan, biarkan ini menjadi kado terindah dihari ulang tahunmu”. Aku semakin tidak tahu harus melakukan dan menjawab apa, sementara jantungku bertalu semakin kencang. Untuk kesekian kali, kau ulangi mengecup bibir merah milikku. Aku hanya terdiam dan mungkin terlalu menikmati. Entahlah, yang jelas aku seperti bukan diriku saat itu.
Kau tahu, selepas itu setiap kali kumelihat kamu ada sesuatu dalam diriku. Aku mencoba mengartikan dengan berguru kepada teman-teman atau bahkan aku tak jarang membaca beberapa artikel yang dengan sengaja kusearch di google. Aku masih sangat tidak paham. Hingga pertemuan selanjutnya terjadi. Sebenarnya aku ingin secara langsung menanyakan hal itu kepadamu, tetapi aku malu. Aku bahkan tidak tahu harus memulai dari mana. Terpaksa dalam-dalam kudiam.
Perjumpaan selanjutnya masihlah kubertanya-tanya tentang hal itu, dan yang aku bingungkan aku masih belum sanggup mempertanyaannya. Hingga pada perjumpaan berikutnya, kau mengulangi hal yang sama. Mendekap, mengecup, dengan cara yang sama. Lembut, dan terasa hangat. Entah kenapa aku mulai menyukainya, dan menikmati sesuatu yang tak kupahami. Ada tiga, empat bahkan lima kali itu terjadi. Aku tidak tahu itu salah atau malah benar, yang aku tahu: setiap kau memeluk dan mengecup, kau selalu berbisik bahwa kau mencintaiku. Aku suka, sangat suka bisikan dari bibir yang sudah terbiasa mengecup aku. Suara lembut nan menawan terkadang tanpa sengaja aku tersenyum mendengarnya.
Hingga pada suatu ketika, aku tidak tahu dari mana asalnya. Adalah kau bukan seperti yang aku kenal, bukan seperti lelaki yang selalu ada saat aku butuhkan, ada saat tiada seorang pun di sisiku. Kau sama sekali tidak kukenali pada sebuah malam tak berbintang. Kala itu aku mendapati kau berjalan di pinggir jalan, dan di sisi kirimu ada seorang perempuan berkacamata, berambut sebahu dan kurus. Ia erat memengang tanganmu. Kau dan dia tertawa terbahak seolah di pinggir jalan hanya ada kalian berdua. Aku yang saat itu duduk di sebuah kursi kayu milik warung nasi goreng memerhatikan kalian. Semula aku tidak yakin itu adalah kau, lelaki yang selalu mendebarkan jantungku dikala bertemu, lelaki yang selalu bisa mencairkan suasana hati, lelaki yang selalu ada disetiap waktuku. Namun pada kenyataanya apa? Itu kau, bukan?
Aku sungguh tidak mengira kau bahkan sangat tega melakukan hal sekeji itu, hal yang sangat kubenci. Malam ini kau habiskan dengan wanita yang aku bahkan tidak tahu namanya. Siapakah dia? Kenapa selama aku denganmu, aku tidak pernah mendengar cerita tentangnya? Apa selama kau bersamaku, kau jalan diam-diam dengannya? Setega itukah kau?
Kini aku bagai orang bodoh yang setiap hari menguntitmu lewat jejaring sosial milikmu, ingin tahu segala tentangmu dan wanita itu. Aku ingin tahu, sebab bagiku kau terlalu sempurna mencipta sebuah sandiwara hingga aku harus pastikan kebenarannya. Suatu ketika, yang aku takutkan terjadi. Ternyata memang benar, wanita itu ialah kekasih barumu. Kekasih yang entah darimana kau kenali. Aku terpukul dengan sangat. Bagimu mungkin kisah denganku tidaklah istimewa, namun kau mungkin lupa siapa aku. Aku wanita yang memberikan ciuman pertamaku kepadamu. Ciuman yang dengannya aku kehilangan sebagian diriku. Kau tahu, semenjak ciuman pertama yang kita lakukan aku terpenjara dalam kenanganmu, aku tidak sanggup keluar dari kurungan jeruji kisahmu. Andai saja kau tahu, betapa aku tidak ingin hal itu, betapa pun aku ingin terbebas dari siksaan bayangmu, tapi aku tak sanggup. Bersamamu terlalu indah, bersamamu terlalu sempurna.
Biarlah kini kusendiri, bersama sepi yang tiada menepi, menikmati rindu-rindu yang tiada henti. Berbahagialah bersamanya, meski sebenarnya itu ialah kematianku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar