Aku kehilangan jiwa, kehilangan sebahagian diri, kehilangan apa yang selama ini kuperjuangkan selama dua puluh dua tahun. Semenjak dihari ulang tahunku kau mencurinya, kau merenggutnya. Ialah ciumanan pertama yang yang terjadi antara kita di puncak bersuhu dingin. Di bawah sebuah pohon yang rindang, kiri-kanan ada semak belukar yang tengah menari riang lantaran angin membelai dedaunan milik mereka. Sedang aku dan kau terjerembab dalam situasi yang sampai saat ini tak dapat kupahami, tak dapat kumengerti bahkan tak dapat kulupakan.
Saat kita duduk berdua,
menatap ke jantung kota dimana kau terlahir, diam-diam kau memerhatikanku, aku
pun terdiam. Dalam-dalam kau menginginkan aku, aku tahu itu. Jangan kau tanya
dari mana aku tahu, aku tahu dari binar kedua bola matamu yang seolah ikut
membuatku tercengang. Masa itu ada sesuatu yang bergetar, entah dada atau
bahkan diri. Kau mendekat, mendekap semakin erat, aku yang tidak harus
melakukan apa-apa hanya terpaku. Mendekat, semakin dekat. Kedua belah bibirmu
mengecup belahan bibir atasku. Lembut, terasa hangat. Aku merasa semakin
bergetar, seperti kesetrum. Kau lepas, kau ulangi, lagi dan lagi. Hingga aku
mencoba menepis, dengan lembut kau berbisik, “Aku menyanyangimu! Biarkan ini
menjadi sesuatu yang tak akan kau lupa selamanya, dik. Dan, biarkan ini menjadi
kado terindah dihari ulang tahunmu”. Aku semakin tidak tahu harus melakukan dan
menjawab apa, sementara jantungku bertalu semakin kencang. Untuk kesekian kali,
kau ulangi mengecup bibir merah milikku. Aku hanya terdiam dan mungkin terlalu
menikmati. Entahlah, yang jelas aku seperti bukan diriku saat itu.
Kau tahu, selepas itu
setiap kali kumelihat kamu ada sesuatu dalam diriku. Aku mencoba mengartikan
dengan berguru kepada teman-teman atau bahkan aku tak jarang membaca beberapa artikel
yang dengan sengaja kusearch di google. Aku masih sangat tidak paham. Hingga
pertemuan selanjutnya terjadi. Sebenarnya aku ingin secara langsung menanyakan
hal itu kepadamu, tetapi aku malu. Aku bahkan tidak tahu harus memulai dari
mana. Terpaksa dalam-dalam kudiam.
Perjumpaan selanjutnya
masihlah kubertanya-tanya tentang hal itu, dan yang aku bingungkan aku masih
belum sanggup mempertanyaannya. Hingga pada perjumpaan berikutnya, kau mengulangi
hal yang sama. Mendekap, mengecup, dengan cara yang sama. Lembut, dan terasa
hangat. Entah kenapa aku mulai menyukainya, dan menikmati sesuatu yang tak
kupahami. Ada tiga, empat bahkan lima kali itu terjadi. Aku tidak tahu itu
salah atau malah benar, yang aku tahu: setiap kau memeluk dan mengecup, kau
selalu berbisik bahwa kau mencintaiku. Aku suka, sangat suka bisikan dari bibir
yang sudah terbiasa mengecup aku. Suara lembut nan menawan terkadang tanpa
sengaja aku tersenyum mendengarnya.
Hingga pada suatu
ketika, aku tidak tahu dari mana asalnya. Adalah kau bukan seperti yang aku
kenal, bukan seperti lelaki yang selalu ada saat aku butuhkan, ada saat tiada
seorang pun di sisiku. Kau sama sekali tidak kukenali pada sebuah malam tak
berbintang. Kala itu aku mendapati kau berjalan di pinggir jalan, dan di sisi
kirimu ada seorang perempuan berkacamata, berambut sebahu dan kurus. Ia erat
memengang tanganmu. Kau dan dia tertawa terbahak seolah di pinggir jalan hanya
ada kalian berdua. Aku yang saat itu duduk di sebuah kursi kayu milik warung
nasi goreng memerhatikan kalian. Semula aku tidak yakin itu adalah kau, lelaki
yang selalu mendebarkan jantungku dikala bertemu, lelaki yang selalu bisa
mencairkan suasana hati, lelaki yang selalu ada disetiap waktuku. Namun pada
kenyataanya apa? Itu kau, bukan?
Aku sungguh tidak
mengira kau bahkan sangat tega melakukan hal sekeji itu, hal yang sangat
kubenci. Malam ini kau habiskan dengan wanita yang aku bahkan tidak tahu
namanya. Siapakah dia? Kenapa selama aku denganmu, aku tidak pernah mendengar
cerita tentangnya? Apa selama kau bersamaku, kau jalan diam-diam dengannya?
Setega itukah kau?
Kini aku bagai orang
bodoh yang setiap hari menguntitmu lewat jejaring sosial milikmu, ingin tahu
segala tentangmu dan wanita itu. Aku ingin tahu, sebab bagiku kau terlalu
sempurna mencipta sebuah sandiwara hingga aku harus pastikan kebenarannya.
Suatu ketika, yang aku takutkan terjadi. Ternyata memang benar, wanita itu
ialah kekasih barumu. Kekasih yang entah darimana kau kenali. Aku terpukul
dengan sangat. Bagimu mungkin kisah denganku tidaklah istimewa, namun kau
mungkin lupa siapa aku. Aku wanita yang memberikan ciuman pertamaku kepadamu.
Ciuman yang dengannya aku kehilangan sebagian diriku. Kau tahu, semenjak ciuman
pertama yang kita lakukan aku terpenjara dalam kenanganmu, aku tidak sanggup
keluar dari kurungan jeruji kisahmu. Andai saja kau tahu, betapa aku tidak
ingin hal itu, betapa pun aku ingin terbebas dari siksaan bayangmu, tapi aku
tak sanggup. Bersamamu terlalu indah, bersamamu terlalu sempurna.
Biarlah kini kusendiri, bersama
sepi yang tiada menepi, menikmati rindu-rindu yang tiada henti. Berbahagialah
bersamanya, meski sebenarnya itu ialah kematianku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar