Malam ini rindu betul
aku kepadamu, tuan. Rasanya aku ingin langsung mengabarimu lewat telepon, atau
sekedar menyapamu lewat pesan singkat yang biasa kukirim untukmu. Namun, aku
harus memegang perbedaan yang kutetapkan, ialah mencintaimu dengan cara
berbeda. Sebenarnya aku sulit melakukannya kendati merindukanmu adalah hal yang
membuat aku lemah.
Tuan, adakah kau tahu
saat ini? Jantungku berdegup kencang, darahku mengalir begitu deras, ketika aku
mengingat setiap kisah yang pernah kita lalui, setiap cerita yang pernah cipta,
ketika aku berada di kota kelahiranmu, ketika saat itu aku kau perioritaskan.
Ketika aku menjadi segalamu. Adakah kau sadar, aku begitu merindukanmu?
Sungguh, aku tidak
sanggup walau hanya mengirimimu pesan rindu. Aku tak punya kekuatan itu. Aku
ingin memegang teguh yang aku tegakkan, ialah apabila aku merindukanmu cukuplah
aku dan Tuhan yang tahu. Aku akan berdialog pada Tuhan tentang rasa yang ada
dalam hatiku, tentang apa yang tengah aku rasakan terhadapmu.
Malam ini, ingin sekali menatapmu,
mendengar suaramu dan bahkan tertidur pulas dalam pelukanmu tanpa harus
mengatakan sepatah kata pun, serupa yang pernah kita lakukan sembilan puluh
empat hari silam. Aku rindu masa itu, sungguh aku rindu.
Bilakah kita bersua dan mengulang
setiap cerita manis dahulu?
Atau malah ketika kita bersua hanya
untuk menjemput dan menghapus kenangan dahulu?
Ah, tuan…. Maafkan aku
yang sedang belajar berkhianat di depanmu. Belajar mengkhianati hati, cinta dan
rindu. Meski hanya khianat di bibir semata, aku akan tetap belajar. Karena
bagiku, biarlah kini kuceritakan kau pada Tuhan. Biar Tuhan yang sampaikan
rinduku untukmu dengan caranya, biar Tuhan yang menyatakan cintaku dengan
semauNya pula.
Satu yang harus kau
tahu: aku menulis ini bukan berharap untuk kau baca, hanya saja aku terlalu
merindukanmu hingga kutuangkan dalam tulisan sebelum betul-betul aku menghadap
Tuhan untuk berdialog tentangmu.
Karena bagiku, aku
lebih baik memintamu dengan iman daripada harus memohon dengan cara yang dunia
lakukan dalam mencinta. Itu lebih sakral dan (mungkin) lebih masuk akal.
Benar, bukan?
Kuharap, kau dapat
merasakannya walau hanya seperti hadirnya angin saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar