Selasa, 13 Desember 2016

Sakral dan Masuk Akal



Malam ini rindu betul aku kepadamu, tuan. Rasanya aku ingin langsung mengabarimu lewat telepon, atau sekedar menyapamu lewat pesan singkat yang biasa kukirim untukmu. Namun, aku harus memegang perbedaan yang kutetapkan, ialah mencintaimu dengan cara berbeda. Sebenarnya aku sulit melakukannya kendati merindukanmu adalah hal yang membuat aku lemah.
Tuan, adakah kau tahu saat ini? Jantungku berdegup kencang, darahku mengalir begitu deras, ketika aku mengingat setiap kisah yang pernah kita lalui, setiap cerita yang pernah cipta, ketika aku berada di kota kelahiranmu, ketika saat itu aku kau perioritaskan. Ketika aku menjadi segalamu. Adakah kau sadar, aku begitu merindukanmu?
Sungguh, aku tidak sanggup walau hanya mengirimimu pesan rindu. Aku tak punya kekuatan itu. Aku ingin memegang teguh yang aku tegakkan, ialah apabila aku merindukanmu cukuplah aku dan Tuhan yang tahu. Aku akan berdialog pada Tuhan tentang rasa yang ada dalam hatiku, tentang apa yang tengah aku rasakan terhadapmu.
Malam ini, ingin sekali menatapmu, mendengar suaramu dan bahkan tertidur pulas dalam pelukanmu tanpa harus mengatakan sepatah kata pun, serupa yang pernah kita lakukan sembilan puluh empat hari silam. Aku rindu masa itu, sungguh aku rindu.
Bilakah kita bersua dan mengulang setiap cerita manis dahulu?
Atau malah ketika kita bersua hanya untuk menjemput dan menghapus kenangan dahulu?
Ah, tuan…. Maafkan aku yang sedang belajar berkhianat di depanmu. Belajar mengkhianati hati, cinta dan rindu. Meski hanya khianat di bibir semata, aku akan tetap belajar. Karena bagiku, biarlah kini kuceritakan kau pada Tuhan. Biar Tuhan yang sampaikan rinduku untukmu dengan caranya, biar Tuhan yang menyatakan cintaku dengan semauNya pula.
Satu yang harus kau tahu: aku menulis ini bukan berharap untuk kau baca, hanya saja aku terlalu merindukanmu hingga kutuangkan dalam tulisan sebelum betul-betul aku menghadap Tuhan untuk berdialog tentangmu.
Karena bagiku, aku lebih baik memintamu dengan iman daripada harus memohon dengan cara yang dunia lakukan dalam mencinta. Itu lebih sakral dan (mungkin) lebih masuk akal.
Benar, bukan?
Kuharap, kau dapat merasakannya walau hanya seperti hadirnya angin saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar