Rabu, 28 Desember 2016

Menunggu Kemantapan Hati, Aku atau Dia?

            Orang diluar sana ialah ibarat dua sisi logam yang berbeda tetapi tetap menyatu. Tidak seperti kita yang sama tetapi tak kunjung bersatu. Adakah kau tahu mengenai alasannya? Bukan kita tidak punya cinta, bukan pula kita terhalang oleh jarak, bukan pula termakan oleh permainan waktu. Hanya saja ada satu alasan yang entah sampai kapan kita dapat runtuhkan. Usah kujelaskan itu semua, aku yakin kau pastilah paham dan mengerti yang kumaksudkan.
            Andai saja dahulu aku tahu dari awal, andai saja dahulu kau mengatakan yang sebenarnya, pastilah aku tidak akan melakukan hal menjijikkan seperti sekarang ini. Andai saja dahulu juga kau tidak berniat mendekatiku, membuatku aku terpesona akan keelokan tingkahmu, pastilah sampai detik ini aku tak akan bertahan dalam kondisi yang jika kuakui sangat menyakitkan. Namun, kau tidak pernah sadari tentang apa yang membuat aku memantapkan hatiku untuk jatuh cinta padamu. Kau ingat, saat aku jatuh sakit, hanya ada perhatian dan kepedulianmu sepanjang hari di hidupku? Kau ingat, saat kali pertama kau mengecup lembut keningku di samping perempuan tua pemilik rumah tempat kita bersua adalah hal yang paling membuatku tertegun? Kau ingat semua? Atau perlukah kupaparkan setiap rangkaian peristiwa yang membaut aku semakin memujamu? Ah, tidak perlu sedetail itu kejelaskan. Satu saja kau pastilah langsung paham.
Hei…. Adakah kau tahu, selepas itu aku seperti candu. Candu ingin menikmati setiap waktu bersamamu, mendengar serak suaramu dan sangat candu saat kau membenamkan aku di dadamu yang bidang saat aku sedang dan benar-benar membutuhkan perlindungan dan ketenangan. Kuakui memang selepas kau mengecup lembut keningku sembari berucap kau mencintaiku, aku semakin candu dan ingin mengulang lagi.
            Adakah kau sadar? Atau itu hanya sebuah kisah yang kau cipta untuk seorang perempuan yang sedang butuh teman saat ia terasingkan di kota ia tersesat? Bukankah seperti ucapmu dahulu, “Tidaklah mungkin aku rela melakukan ini-itu kepadamu kalau tidak berlandaskan cinta, dik.” Lantas, kenapa sekarang belumlah jua ada akhir dari kesepakatan yang kita bangun dahulu? Apa masih kurangkah bermusim-musim kulewati tanpa kepastian hanya untuk menunggumu? Atau bahkan kau masih ingin berlama-lama bermain dalam permainan waktu untuk mempermainkan aku dan cintaku?
            Asal kau tahu, aku bukan type penuntut. Bukan pribadi yang mendamba ketidakpastian pula, aku hanya butuh kepastian. Dan, aku tidak meminta banyak, aku hanya menagih hasil dari kemantapan hatimu semasa ini. Entah aku atau dia!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar