Rabu, 07 Desember 2016

Kebodohan


Mungkin terlalu bodoh kusebut diriku lantaran masih saja mengenangmu. Ah, tidak. Bukan mengenangmu. Tetapi masih saja mengingat, merindu bahkan selalu menunggu kedatanganmu. Aku tidak tahu kenapa ini kulakukan sampai sekarang, padahal lama sudah kita tak bersua, lama sudah kita tak saling memeluk, dan tak saling mencumbu.
Aku pikir itu saat yang tepat untuk menghapuskanmu dari khayal, menghilangkamu dari pikiran. Nanun, untuk yang kesekian kali aku kalah. Aku tidak sehebat diriku yang kupikirkan, aku malah lebih lemah dibanding yang kubayangkan. Aku masih saja merindukanmu yang sekarang entah di mana dan dengan siapa. Semakin aku ingin melupakan, semakin kuat bayangmu bermain di khayal. Pernah kuputuskan membuang semua barang pemberianmu dahulu, pernah juga kubakar semua foto bersamamu, tetapi itu juga belum cukup untuk melupakanmu. Ah, sungguhlah diriku begitu bodoh. Sungguhlah, aku terlalu bodoh! BAhkan untuk melupakanmu saja pun aku tak sanggup.
Untuk beribu musim, aku tetap aku yang setia menunggu kedatangmu. Menunggu kau datang puaskan dahaga rinduku. Meski tidak tahu kapan, tetapi tetaplah aku menunggumu, sejatinya aku akan lakukan sampai benar kau yakin bahwa akulah wanita yang pantas memiliki rindu dan cintamu secara utuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar