Mungkin terlalu bodoh
kusebut diriku lantaran masih saja mengenangmu. Ah, tidak. Bukan mengenangmu.
Tetapi masih saja mengingat, merindu bahkan selalu menunggu kedatanganmu. Aku
tidak tahu kenapa ini kulakukan sampai sekarang, padahal lama sudah kita tak
bersua, lama sudah kita tak saling memeluk, dan tak saling mencumbu.
Aku pikir itu saat yang
tepat untuk menghapuskanmu dari khayal, menghilangkamu dari pikiran. Nanun,
untuk yang kesekian kali aku kalah. Aku tidak sehebat diriku yang kupikirkan,
aku malah lebih lemah dibanding yang kubayangkan. Aku masih saja merindukanmu
yang sekarang entah di mana dan dengan siapa. Semakin aku ingin melupakan,
semakin kuat bayangmu bermain di khayal. Pernah kuputuskan membuang semua
barang pemberianmu dahulu, pernah juga kubakar semua foto bersamamu, tetapi itu
juga belum cukup untuk melupakanmu. Ah, sungguhlah diriku begitu bodoh. Sungguhlah,
aku terlalu bodoh! BAhkan untuk melupakanmu saja pun aku tak sanggup.
Untuk beribu musim, aku
tetap aku yang setia menunggu kedatangmu. Menunggu kau datang puaskan dahaga
rinduku. Meski tidak tahu kapan, tetapi tetaplah aku menunggumu, sejatinya aku
akan lakukan sampai benar kau yakin bahwa akulah wanita yang pantas memiliki
rindu dan cintamu secara utuh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar