Maaf, Aku Berbeda ...
Mungkin kau terheran melihat
aku yang begitu dingin, merasakan sesuatu telah merasuk aku hingga terlihat
seperti tidak memerdulikanmu lagi. Kulihat dari matamamu ada sebaris tanya yang
tak berhasil kau lempar kepadaku lantaran menurutmu mungkin aku lebih baik memberi
tahu segalanya tanpa kau bertanya secara langsung.
Benar memang adanya,
aku menyembunyikan sesuatu. Keanehan tentang diriku dalam hatimu adalah
kebenaran. Aku merahasiakan sesuatu kepadamu. Aku terlihat bukan aku, bukan
diriku yang selalu bertanya kabarmu, sedang apa, di mana, sudah mandi, sudah
makan dan segala rutinitasmu setiap hari. Kau lihat mungkin aku sekarang lebih
banyak diam, lebih banyak membiarkanmu dengan duniamu dan tidak merecokimu
lagi. Kau merasakan itu, bukan? Dan, itu adalah baris-baris tanya yang tak
pernah berhasil kau ungkapkan, bukan?
Itu semua benar, Sayang.
Maafkan aku yang kini mendiamkanmu, membuatmu asyik diserbu rasa tanya dan
keheranan, membiarkanmu memulai dan melewati hari tanpa ada perhatian dan
kecerewetanku lagi. Karena, aku sudah capek. Aku terlalu capek, dan sangat
capek. Setiap pagi sebelum matahari menyapamu dari celah daun jendela, aku harus
menyapamu terlebih dahulu. Saat menjelang siang, sebelum cacing-cacing di
perutmu menuntut hak, aku harus lebih dahulu mengingatkanmu untuk makan siang.
Pada malam pun demikian, sebelum kedua kelopak matamu berteriak untuk kau
pejamkan, aku harus lebih dan lebih dahulu untuk mengucapkan salam dengan
sederet kekata cinta berteman sebuah
kecup yang meski aku berikan hanya lewat pesan singkat. Setiap hari, setiap
hari……. Aku lelah melakukan itu semua, bahkan sangat lelah.
Biar kini kubiarkan kau
sendiri tanpa keusilanku, tanpa kebawelanku dan tanpa kepedulianku. Aku
menyerah melakukan itu semua. Maafkan aku, Sayang. Sejatinya aku lakukan itu
bukan karena aku sudah tidak mencinta dan merinduimu lagi, tapi karena aku
sadar usahaku sendiri tidak cukup untuk membuktikan betapa aku cinta dan
menginginkanmu. Aku butuh sosok yang lebih tangguh untuk membantuku dalam
mencintamu, aku butuh sosok yang lebih perkasa. Aku telah menemukannya, dan aku
akan memulainya terhitung tigapuluh lima hari kita tidak bersua.
Kini, biarkan aku juga
memperjuangkan rasa cintaku kepadamu dengan cara yang berbeda. Tidak dengan
cara yang dunia ini lakukan, tapi aku punya suatu cara yang mungkin tidak
seorangpun paham, termasuk kau. Kini, aku lebih menyibukkan diri bercakap-cakap
kepada Tuhan, berdialog tentangmu kepadaNya. Aku berusaha membangun hubungan
yang erat dengan Sang Pemersatu, barangkali dengan kegigihanku bercerita
tentangmu kepadaNya, Ia memperkenankanku dan kau menjadi satu. Satu dihadapan
manusia, terlebih dihadapanNya. Begitulah aku selama ini, Sayang. Maafkan
caraku mencintaimu sangat berbeda dengan wanita yang pernah mengatakan cinta
padamu.
Inginku padamu; biarkan
aku bercakap lebih lama kepada Tuhan. Esok atau lusa kau pun akan tahu apa-apa
saja yang kuceritakan, apa-apa saja yang kuinginkan dan apa-apa saja yang
kuperjuangkan. Tentangmu, tentang kita, keluargaku (mu) atau bahkan anak-anak
kita nantinya.
Selamat menikmati cintaku yang akan
Tuhan hadirkan dengan cara berbeda, Sayang!.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar