Kamis, 08 Desember 2016

Maaf, Aku Berbeda!






Maaf, Aku Berbeda ...



Mungkin kau terheran melihat aku yang begitu dingin, merasakan sesuatu telah merasuk aku hingga terlihat seperti tidak memerdulikanmu lagi. Kulihat dari matamamu ada sebaris tanya yang tak berhasil kau lempar kepadaku lantaran menurutmu mungkin aku lebih baik memberi tahu segalanya tanpa kau bertanya secara langsung.
Benar memang adanya, aku menyembunyikan sesuatu. Keanehan tentang diriku dalam hatimu adalah kebenaran. Aku merahasiakan sesuatu kepadamu. Aku terlihat bukan aku, bukan diriku yang selalu bertanya kabarmu, sedang apa, di mana, sudah mandi, sudah makan dan segala rutinitasmu setiap hari. Kau lihat mungkin aku sekarang lebih banyak diam, lebih banyak membiarkanmu dengan duniamu dan tidak merecokimu lagi. Kau merasakan itu, bukan? Dan, itu adalah baris-baris tanya yang tak pernah berhasil kau ungkapkan, bukan?
Itu semua benar, Sayang. Maafkan aku yang kini mendiamkanmu, membuatmu asyik diserbu rasa tanya dan keheranan, membiarkanmu memulai dan melewati hari tanpa ada perhatian dan kecerewetanku lagi. Karena, aku sudah capek. Aku terlalu capek, dan sangat capek. Setiap pagi sebelum matahari menyapamu dari celah daun jendela, aku harus menyapamu terlebih dahulu. Saat menjelang siang, sebelum cacing-cacing di perutmu menuntut hak, aku harus lebih dahulu mengingatkanmu untuk makan siang. Pada malam pun demikian, sebelum kedua kelopak matamu berteriak untuk kau pejamkan, aku harus lebih dan lebih dahulu untuk mengucapkan salam dengan sederet kekata cinta berteman  sebuah kecup yang meski aku berikan hanya lewat pesan singkat. Setiap hari, setiap hari……. Aku lelah melakukan itu semua, bahkan sangat lelah.
Biar kini kubiarkan kau sendiri tanpa keusilanku, tanpa kebawelanku dan tanpa kepedulianku. Aku menyerah melakukan itu semua. Maafkan aku, Sayang. Sejatinya aku lakukan itu bukan karena aku sudah tidak mencinta dan merinduimu lagi, tapi karena aku sadar usahaku sendiri tidak cukup untuk membuktikan betapa aku cinta dan menginginkanmu. Aku butuh sosok yang lebih tangguh untuk membantuku dalam mencintamu, aku butuh sosok yang lebih perkasa. Aku telah menemukannya, dan aku akan memulainya terhitung tigapuluh lima hari kita tidak bersua.
Kini, biarkan aku juga memperjuangkan rasa cintaku kepadamu dengan cara yang berbeda. Tidak dengan cara yang dunia ini lakukan, tapi aku punya suatu cara yang mungkin tidak seorangpun paham, termasuk kau. Kini, aku lebih menyibukkan diri bercakap-cakap kepada Tuhan, berdialog tentangmu kepadaNya. Aku berusaha membangun hubungan yang erat dengan Sang Pemersatu, barangkali dengan kegigihanku bercerita tentangmu kepadaNya, Ia memperkenankanku dan kau menjadi satu. Satu dihadapan manusia, terlebih dihadapanNya. Begitulah aku selama ini, Sayang. Maafkan caraku mencintaimu sangat berbeda dengan wanita yang pernah mengatakan cinta padamu.
Inginku padamu; biarkan aku bercakap lebih lama kepada Tuhan. Esok atau lusa kau pun akan tahu apa-apa saja yang kuceritakan, apa-apa saja yang kuinginkan dan apa-apa saja yang kuperjuangkan. Tentangmu, tentang kita, keluargaku (mu) atau bahkan anak-anak kita nantinya.
Selamat menikmati cintaku yang akan Tuhan hadirkan dengan cara berbeda, Sayang!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar