Ketika
aku sangat dan sangat merindukan seseorang dimasa lalu, aku menuliskan
ini, tepat pada tanggal 26 Oktober 2015. Kala itu aku begitu mengenang
segala tentangnya, padahal kisah bersama dia telah usai empat tahun. Ialah lelaki yang menjadi cinta pertamaku, kutemukan tulisan ini dalam tumpukan cerita dahulu. Ah, ternyata aku pernah sebegitu cintanya kepada seorang lelaki yang telah menyepakati nama Grace Alfriani.
Begini kepingan-kepingan cerita yang sampai hari ini kucoba satukan, cekidottttttt :)
DULU
Aku mampu
tertawa dan menangis dalam waktu bersamaan. Mampu menari dalam tangisan langit,
mampu melakukan hal apa pun yang aku anggap sulit bagiku. Aku mampu melakukan
hal rumit dan
melakukannya sangat tenang, sangat hati-hati dan tidak terbeban. Tapi, itu dahulu. Dahulu, saat aku masih bersama
denganmu. Denganmu yang menjadi kekuatan di hari-hariku. Denganmu yang menjadi
penganti sayapku yang patah, denganmu yang telah mendarah di jiwa.
KEMARIN
Aku seperti
bukan diriku. Aku memang bukanlah aku, sekarang. Aku lebih banyak memilih diam,
menatap nanar setiap yang melintas di netraku. Aku bukan diriku lagi! Aku
kehilangan senyumku, tawaku juga kekuatanku. Aku kehilangan bagian dari diriku.
Telah kucoba mencari hingga kakiku tidak kuat melangkah, telah kucoba mencari
sinar matamu di antara hingarnya dunia. Telah kucoba mencari cinta lain dan
yang kutemukan hanya seiris luka, sebongkah dusta dan segunung pengkhianatan.
Aku lelah
melakukan ini semua. Aku muak!
Sesekali kamu
harus berubah menjadi aku. Agar kamu tahu betapa letihnya jiwa ragaku mencari
pecahan hati yang sedari dulu tertinggal di dalam dirimu. Aku hanya ingin itu
kembali, agar hati dan jiwaku utuh seperti sedia kala disaat aku tidak
mengenalmu. Saat aku belum dan tidak pernah meraskan cinta. Saat tidak ada
seorang pun yang berani memelukku kali pertama dan terakhir saat kepergianmu
dahulu.
Saat kata aku dan kau tidak akan pernah menjadi kita.
SEKARANG
Kini, aku
tertanam dalam sumur cintamu. Terkubur dalam lobang-lobang kenangan yang kamu
gali sendiri. Aku terpenjara hanya karena rindu ini masih utuh milikmu. Lalu,
dengan mimpi masa depan kita, apa yang harus aku lakukan? Akankah aku membunuh
mimpi yang belum tumbuh? Atau akankah aku sendiri yang memupuk mimpi itu hingga
merekah seperti fajar di ufuk timur? Dan, bagaimana jika ia mati? Tentu kamu
akan bahagia. Namun jika ia hidup, merintih dan meminta sang penabur agar
menjadi satu merawat ia, bagaimana? Apakah kamu akan melakukannnya? Apakah kamu
akan kembali di sisiku, menyirami taman hati yang kita bangun? Memupuk buah-buah
impian yang kini mulai layu?
Atau, kamu bahkan tidak akan peduli tentang ini semua.
Aku resah;
gelisah.
Aku semakin
takut mengingatmu, sebab dengan mengenangmu membuat bulir-bulir bening
membanjiri keduabelah pipiku. Aku
tidak tahu harus melakukan apa lagi agar bayangmu tidak bemain di khayalku,
agar namamu tidak tersimpan di memori, agar senyummu tidak terlukis di mataku,
agar suaramu tidak mengiang di telingaku dan agar kamu benar-benar pergi dari
kehidupanku. Apa yang akan aku lakukan? Haruskah aku mengakhiri perjalanan
hidup ini?
Aku benar-benar belum bisa melupakan sosokmu dari hidupku. Bukan
aku tidak mencoba atau bukan aku tidak mau. Lebih dari itu aku sudah lakukan.
Dari menyimpan jauh semua pemberianmu, berteman dekat dengan lelaki, bahkan
berpacaran aku sudah lakukan dengan segenap kekuatan. Saat berpacaran dengan
lelaki lain, aku selalu bertingkah seperti saat denganmu. Namun, mereka tidak
paham apa yang aku inginkan, mereka tidak peka tentang perasaan yang menumpuk
di dadaku. Mereka tidak bisa melakukan yang kumau, karena mereka adalah bukan
kamu. Sungguh, tidak ada yang sepertimu.

Fuck it’s my birthday on 26 October
BalasHapus