Selasa, 03 Januari 2017

Dulu, Sekarang dan Selamanya




Ketika aku sangat dan sangat merindukan seseorang dimasa lalu, aku menuliskan ini, tepat pada tanggal 26 Oktober 2015. Kala itu aku begitu mengenang segala tentangnya, padahal kisah bersama dia telah usai empat tahun. Ialah lelaki yang menjadi cinta pertamaku, kutemukan tulisan ini dalam tumpukan cerita dahulu. Ah, ternyata aku pernah sebegitu cintanya kepada seorang lelaki yang telah menyepakati nama Grace Alfriani.
Begini kepingan-kepingan cerita yang sampai hari ini kucoba satukan, cekidottttttt :)

DULU
Aku mampu tertawa dan menangis dalam waktu bersamaan. Mampu menari dalam tangisan langit, mampu melakukan hal apa pun yang aku anggap sulit bagiku. Aku mampu melakukan hal rumit dan melakukannya sangat tenang, sangat hati-hati dan tidak terbeban. Tapi, itu dahulu. Dahulu, saat aku masih bersama denganmu. Denganmu yang menjadi kekuatan di hari-hariku. Denganmu yang menjadi penganti sayapku yang patah, denganmu yang telah mendarah di jiwa.

KEMARIN
Aku seperti bukan diriku. Aku memang bukanlah aku, sekarang. Aku lebih banyak memilih diam, menatap nanar setiap yang melintas di netraku. Aku bukan diriku lagi! Aku kehilangan senyumku, tawaku juga kekuatanku. Aku kehilangan bagian dari diriku. Telah kucoba mencari hingga kakiku tidak kuat melangkah, telah kucoba mencari sinar matamu di antara hingarnya dunia. Telah kucoba mencari cinta lain dan yang kutemukan hanya seiris luka, sebongkah dusta dan segunung pengkhianatan.
Aku lelah melakukan ini semua. Aku muak!
Sesekali kamu harus berubah menjadi aku. Agar kamu tahu betapa letihnya jiwa ragaku mencari pecahan hati yang sedari dulu tertinggal di dalam dirimu. Aku hanya ingin itu kembali, agar hati dan jiwaku utuh seperti sedia kala disaat aku tidak mengenalmu. Saat aku belum dan tidak pernah meraskan cinta. Saat tidak ada seorang pun yang berani memelukku kali pertama dan terakhir saat kepergianmu dahulu. Saat kata aku dan kau tidak akan pernah menjadi kita.

SEKARANG
Kini, aku tertanam dalam sumur cintamu. Terkubur dalam lobang-lobang kenangan yang kamu gali sendiri. Aku terpenjara hanya karena rindu ini masih utuh milikmu. Lalu, dengan mimpi masa depan kita, apa yang harus aku lakukan? Akankah aku membunuh mimpi yang belum tumbuh? Atau akankah aku sendiri yang memupuk mimpi itu hingga merekah seperti fajar di ufuk timur? Dan, bagaimana jika ia mati? Tentu kamu akan bahagia. Namun jika ia hidup, merintih dan meminta sang penabur agar menjadi satu merawat ia, bagaimana? Apakah kamu akan melakukannnya? Apakah kamu akan kembali di sisiku, menyirami taman hati yang kita bangun? Memupuk buah-buah impian yang kini mulai layu? Atau, kamu bahkan tidak akan peduli tentang ini semua.
Aku resah; gelisah.
Aku semakin takut mengingatmu, sebab dengan mengenangmu membuat bulir-bulir bening membanjiri keduabelah pipiku. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi agar bayangmu tidak bemain di khayalku, agar namamu tidak tersimpan di memori, agar senyummu tidak terlukis di mataku, agar suaramu tidak mengiang di telingaku dan agar kamu benar-benar pergi dari kehidupanku. Apa yang akan aku lakukan? Haruskah aku mengakhiri perjalanan hidup ini?
Aku benar-benar belum bisa melupakan sosokmu dari hidupku. Bukan aku tidak mencoba atau bukan aku tidak mau. Lebih dari itu aku sudah lakukan. Dari menyimpan jauh semua pemberianmu, berteman dekat dengan lelaki, bahkan berpacaran aku sudah lakukan dengan segenap kekuatan. Saat berpacaran dengan lelaki lain, aku selalu bertingkah seperti saat denganmu. Namun, mereka tidak paham apa yang aku inginkan, mereka tidak peka tentang perasaan yang menumpuk di dadaku. Mereka tidak bisa melakukan yang kumau, karena mereka adalah bukan kamu. Sungguh, tidak ada yang sepertimu.




1 komentar: